2014 Melambat, Properti Indonesia Bangkit di 2015

Tingkat pertumbuhan untuk setiap sektor berbeda-beda untuk beberapa tahun ke depan

Perlambatan ekonomi selama tahun 2014 membuat tingkat penjualan dan penyerapan proyek-proyek properti di Jakarta mengalami penurunan dibandingkan tahun 2013. Namun, tingkat permintaan masih berada di level yang positif dan optimisme pasar berangsur meningkat seiring sejumlah reformasi di sektor ekonomi dari pemerintahan baru. Kondisi ini akan terus mendorong pertumbuhan sektor properti sepanjang tahun 2015 dan tahun-tahun berikutnya. Demikian hasil survey dan analisis pasar properti di Jakarta, yang disampaikan oleh konsultan properti internasional asal London (UK), Savills PCI, hari ini (11/2/2015).

Rosaline Lie, Direktur Savills PCI mengatakan bahwa pasar properti Indonesia khususnya Jakarta masih memiliki prospek pertumbuhan yang besar di berbagai sektor. Hal ini terus mendorong minat, tidak hanya pengembang dan investor lokal, namun juga investor asing yang melihat potensi permintaan berbagai produk properti khususnya yang menyasar kelas menengah dan atas di Ibukota. Apalagi ekonomi Indonesia, masih dipandang sebagai tujuan investasi paling menarik di bursa global saat ini.

Sementara itu, Anton Sitorus, Head of Research, Savills PCI menambahkan, tingkat pertumbuhan pasar dalam beberapa tahun ke depan akan berbeda-beda di berbagai sektor dan wilayah. Ini dipengaruhi oleh situasi besaran pasok yang akan masuk ke pasar. Sebagai contoh, kata Anton, “Di sektor perkantoran komersial, tingginya pasokan baru dalam 4 tahun ke depan diproyeksikan akan menarik permintaan tenant yang ingin relokasi ke gedung-gedung baru atau melakukan upgrade ke gedung-gedung yang lebih representatif, tetapi pada saat yang sama juga akan mendorong persaingan di antara pemilik dan pengelola gedung yang kemungkinan akan berdampak terhadap pertumbuhan harga sewa dipasar.”

Di sektor perkantoran segitiga emas (CBD) keterangan Savills PCI pun mengatakan bahwa tingkat permintaan berpotensi melonjak dalam 3 tahun kedepan, akan tetapi volume pasok yang akan masuk ke pasar lebih besar sehingga diperkirakan akan menekan tingkat hunian ke kisaran 90% di tahun 2017. Tren yang senada juga diperkirakan terjadi di wilayah luar CBD, khususnya di daerah-daerah yang sedang ramai oleh proyek pembangunan gedung kantor seperti di sekitar TB Simatupang dan koridor Slipi-Grogol.

Berbeda dengan sektor lainnya, potensi pasok di sektor ritel (pusat perbelanjaan sewa) di Jakarta justru sangat minim. Ini akibat dibatasinya izin pembangunan mal oleh Pemda DKI Jakarta. Pertumbuhan pasok untuk 4 tahun ke depan hanya berkisar kurang dari 400,000 m2 atau sekitar 14% dari total pasok yang ada. Kebanyakan pasokan yang akan masuk, berasal dari ruang ritel dari proyek perkantoran (retail arcade atau podium). Berdasarkan kondisi tersebut, sektor ritel diperkirakan akan mengalami kenaikan tingkat hunian,sedangkan pertumbuhan harga sewa dalam 2 tahun ke depan masih stabil dengan potensi kenaikan marginal di segmen middle-up dan middle-low.

Secara keseluruhan, Rosaline mengatakan bahwa pasar properti di Jakarta diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding tahun 2014 lalu. Tingkat penyerapan dan penjualan di proyek-proyek eksisting maupun yang sedang dibangun diharapkan mulai mengalami kenaikan yang signifikan di semester kedua. (Foto: Istimewa)

rumah123.com