Tinggalkan Hongkong, Perkantoran London Termahal di Dunia

Big Banner

KOMPAS.com – Persaingan ketat antara dua kota dunia, London (Inggris) dan Hongkong (Tiongkok) kian panas. Keduanya terus berlomba menjadi nomor wahid di dunia. Khusus di sektor perkantoran, London dan Hongkong kerap berganti posisi.

Namun, dalam tiga tahun terakhir, London boleh menepuk dada. Kota ini, menurut riset Cushman and Wakefield, menempati peringkat pertama termahal di jagat raya. Tahun 2014, harga sewa perkantoran di kawasan bisnis atau central business district (CBD) West End meningkat 4,6 persen lebih mahal ketimbang tahun 2013.

Namun, lonjakan harga tersebut masih jauh lebih rendah 13 persen daripada pencapaian pada 2007. Terbatasnya pasokan tahun ini, dalam perhitungan Cushman and Wakefield, justru akan memicu pertumbuhan harga lebih tinggi.

Head of Cushman & Wakefield London, George Roberts, mengatakan, sebagai kota global London bakal terus menarik bisnis internasional. Perusahaan-perusahaan ini menajdikan ibu kota Inggris tersebut sebagai basis utama dan batu loncatan untuk “menguasai” eropa.

“Seiring membaiknya kondisi ekonomi Inggris, bakal menstimulasi permintaan perkantoran lebih tinggi pada tahun 2015. Karena pasokan tidak mencukupi, kami prediksikan pertumbuhan harga sewa bakal terus berlanjut,” tutur Roberts.

Saat ini, harga sewa perkantoran di West End London, mencapai 2.344 Euro atau ekuivalen dengan Rp 34 juta per meter persegi per tahun.

Sementara harga sewa perkantoran di CBD Hongkong berada pada level 1.636 Euro atau setara Rp 23,7 juta per meter persegi per tahun.

Di luar London, dan Hongkong, peringkat berikutnya adalah New York dengan sewa 1.162 Euro per meter persegi per tahun, Rio de Janeiro dengan sewa 1.150 Euro per meter persegi per tahun, dan New Delhi dengan 1.064 Euro per meter persegi.

Secara umum, aktivitas sewa perkantoran global meningkat 7 persen pada tahun 2014, lebih dari tiga persen kenaikan tahunan gabungan sejak 2010.

“Tantangan bagi penyewa bukan hanya dari segi fundamental properti, tetapi juga risiko geopolitik yang sebagian sedang mengalami hal-hal tak terduga. Faktor-faktor ini sedang dimanfaatkan oleh beberapa penyewa untuk bernegosiasi demi mendapatkan angka lebih fleksibel dengan jangka sewa tertentu, terutama di pasar-pasar dengan kondisi pasokan berlebih,” pungkas Roberts.


Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me