Merosotnya Rupiah Tak Pengaruhi Pasar Properti Menengah ke Bawah

Big Banner

Merosotnya nilai rupiah ke level Rp 13.000 per satu dollar AS dianggap tak akan mempengaruhi pasar properti untuk kelas menengah ke bawah di Indonesia. Sebaliknya, justru menguntungkan konsumen.

Ketua DPD Real Estat Indonesia, Amran Nukman, menjelaskan, hal ini dimungkinkan karena komponen impor yang digunakan dalam pembangunan properti tapak untuk kelas menengah ke bawah sangat minim.

“Depresiasi nilai Rupiah tidak akan terlalu berpengaruh pada bisnis properti, apalagi untuk pasar menengah ke bawah. Penggunaan komponen impor dalam perumahan lokal sangat minim,” ujar Amran seperti dilansir Kompas.com.

Selain itupembelian properti oleh masyarakat juga disebutkan tak akan berpengaruh. Pasalnya, kredit untuk properti tapak di Indonesia, menggunakan Rupiah. 

“Kredit untuk angsuran properti kan menggunskan Rupiah, bukan Dollar AS. Jadi akan sulit menghubungkan pengaruh depresiasi rupiah untuk properti kelas menengah ke bawah,” lanjut Amran.

Senada dengan Amran, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), Panangian Simanungkalitmenjelaskan bahwa melemahnya nilai Rupiah tak akan memengaruhi pergerakan bisnis properti. Hal ini disebabkan gairah pasar dalam pembelian properti sedang turun.

“Sulit ada kenaikan harga karena gairah kelas menengah sedang turun. Paling-paling ada pengurangan keuntungan pengembang saja karena ada penambahan biaya internal,” tandas Panangian.

Sebaliknya, kata Panangian, kondisi melemahnya Rupiah justru menguntungkan konsumen dalam melakukan pembelian properti. Dia memprediksi tidak akan adanya kenaikan harga properti meski Rupiah  terdepresiasi. Selain itu, turunnya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) juga menjadi pacuan yang baik dalam melakukan pembelian.

“Justru konsumen diuntungkan karena Rupiah sedang melemah, tapi harga propertinya stagnan.  Komponen bahan bangunan impor berarti kan tidak dinaikkan harganya. Ditambah lagi dengan BI Rate yang sedang turun membuat KPR menjadi ringan,” tambah Pangainan.

Meski begitu, Pansngian tak berharap Rupiah tetap melemah. Bila kondisi tersebut bertahan hingga semester kedua 2015, harga properti akan terus melonjak secara perlahan.

“Pemerintah menjanjikan pada semester kedua 2015 nilai tukar Rupiah akan kembali normal. Akan sangat berbahaya bagi bisnis properti bila Rupiah tetap melemah. Pemerintah harus bekerja sama dengan BI untuk menstabilkan kembali nilai tukar Rupiah,” tukas Panangian. (as)

ciputraentrepreneurship.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me