Perhatian, Kepala Naga sedang Menghadap ke Barat!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam kacamata Hong Shui, Jakarta Barat adalah daerah yang strategis karena “kepala naga” sebagai mitos peruntungan, sedang menghadap ke barat. Artinya, daerah ini cocok untuk tempat tinggal atau bisnis.

Percaya atau tidak, saat ini pun sejumlah proyek apartemen bertumbuhan di Jakarta Barat, sebut saja St Moritz Penthouse and Residences, Puri Indah CBD, Ciputra International, dan Bellmont Residences.

Melihat persaingan apartemen cukup ketat, Managing Director AKR Land Development Widijanto mengaku tidak khawatir.

“Saya justru senang melihat banyak yang ramai-ramai bangun di sini. Ini menandakan bahwa Jakarta Barat memang ada daya beli dan bisnisnya,” ujar Widijanto di Marketing Gallery West, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (10/3/2015).

Widijanto melanjutkan, kompetisi bisa membuat pengembang berinovasi untuk menghasilkan produk yang bagus dan diminati pasar. Jika di satu kawasan hanya ada satu apartemen atau satu kantor, konsumen tidak memiliki pilihan lain.

Pengembang pun, kata Widijanto tidak berupaya keras untuk menyajikan fasilitas yang terbaik bagi konsumen. Bisa saja pengembang malah menentukan harga sembarangan dengan kualitas unit yang kurang memadai.

Jakarta Barat sendiri, tambah dia, merupakan tempat yang strategis untuk dibangun kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) baru selain Jakarta Selatan. Menurut dia, segitiga emas tidak bisa terpusat di satu lokasi karena akan menghabiskan waktu pekerja atau pebisnis dalam menempuh perjalanan.

Proyek apartemen dan perkantoran

Dengan nilai investasi sekitar Rp 3,5 triliun, AKR Land Development merancang Gallery West demi memfasilitasi pasar usia menengah baik untuk individu maupun keluarga di Jakarta Barat. Kompleks pembangunan ini berisi dua menara hunian dan perkantoran sekaligus hotel terpadu. 

Untuk “menjual” Gallery West yang berdiri di lahan seluas dua hektar, ARK Land menempatkan proyek ini akses pintu tol Kebon Jeruk. Untuk fasilitas perkantoran, tersedia ruang strata dengan total luas bangunan (Gallery West Office) 31.000 meter persegi meliputi 22 lantai.

Sementara Gallery West Residence ditujukan untuk hunian dengan luas bangunan 29.000 meter persegi setnggi 31 lantai. Di dalamnya terdiri dari apartemen dan townhomes, hotel, galeri mobil, serta ballroom, dan fasilitas lainnya.

“Kompleks pengembangan terintegrasi ini juga meliputi museum seni dan hunian hijau dengan kebun basah dan konsep lockable service area,” ujar Widijanto.

Saat ini, apartemen di Gallery West Residences ditawarkan seharga Rp 23 juta per meter persegi. Tidak jauh berbeda, Gallery West Office Tower dibanderol sekitar Rp 25 juta per meter persegi.

Hotel bintang empat

Dengan nilai investasi mencapai 90.000 dollar AS per kamar, AKR Land menggandeng jaringan perhotelan internasional Starwood Hotels & Resorts Worlwide Inc. Hotel dengan luas area 20.000 meter persegi tersebut akan beroperasi dengan nama Aloft.

AKR bahkan melengkapi fasilitas museum seni Modern and Contemporary Art di Nusantara (MaCAN) untuk memamerkan karya-karya seniman besar seperti Robert Indiana dan Bernar Venet.

Widijanto mengatakan, Aloft Hotel akan menempati lantai 34-41 Gallery West tepatnya di atas bangunan kantor. Hotel ini dirancang dengan jumlah kamar 140 unit.

 

 

properti.kompas.com