Kredit Properti: Penyaluran KPR di Bali Melambat

Big Banner

Bisnis.com, DENPASAR–Kredit properti di Bali selama 2014 mengalami pelambatan.

Penyaluran kredit kepemilikan rumah atau KPR di Bali hingga akhir November 2014 tercatat tumbuh 12,91% atau melambat dibandingkan periode sama 2013 yang tumbuh 24,28%.

Bank Indonesia Perwakilan Bali memprediksi perlambatan itu dipicu oleh melambatnya penyaluran KPR tipe menengah dan menengah atas.

Berdasarkan data BI Perwakilan Bali, realisasi penyaluran kredit KPR pada Januari-November 2014, untuk perumahan tipe 22 – 70 senilai Rp3,56 triliun, tumbuh 14,67%, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan periode sama 2013, Rp 31,11 triliun atau 37,53%.

Kondisi serupa juga terjadi untuk rumah tipe di atas 70 yang mencapai Rp3,65 triliun, atau tumbuh 15,27%.

Namun, untuk untuk KPR tipe 22 penyaluran mencapai Rp3,27 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 8,63%, lebih tinggi dibandingkan penyaluran periode sama tahun sebelumnya senilai Rp3,01 triliun atau tumbuh 0,10%.

Menurut Kepala BI Perwakilan Bali Dewi Setyowati, perlambatan itu sejalan dengan pergerakan harga jual properti sesuai hasil survei harga properti residensial (SHPR) BI triwulan III-2014.

“Survei itu memperkirakan harga jual properti pada triwulan IV-2014 secara umum tumbuh melambat,” ujarnya, Minggu (11/1/2015).

Menurutnya, masyarakat lebih memilih properti tipe kecil. Itu diperkirakan karena harga jualnya menunjukkan kenaikan lebih tinggi.

BI Bali memproyeksikan? harga jual rumah tipe di bawah 36 adalah sebesar 2,19% dibandingkan dengan tipe rumah menengah 2,15% dan rumah tipe besar1,27%.

Dewi menduga kenaikan harga yang lebih tinggi pada perumahan tipe kecil kemungkinan disebabkan kenaikan permintaan pada tipe ini dibandingkan tipe lainnya.

?Dia mengungkapkan permintaan rumah tipe di bawah 36 dan tipe 36-70 masih akan tinggi, terlihat dari indikator permintaan konsumen untuk properti seharga di bawah Rp1 miliar.

Pasalnya, harga tersebut dinilai memiliki psychology effect bagi konsumen hingga kalangan menengah.

Selain itu, ?umumnya properti di atas Rp1 miliar bersifat investasi dan dipergunakan untuk disewakan kembali, bukan murni untuk ditempati sendiri.

Adapun lokasi prospektif pembangunan rumah seharga di bawah Rp1 miliar adalah daerah penyangga Denpasar dan Badung seperti Kabupaten Tabanan ke wilayah Barat (seperti Kabupaten Jembrana), Tengah (seperti Kabupaten Klungkung dan Bangli), serta ke arah Timur (seperti Kab. Karangasem).

?BI mengungkapkan berdasarkan survei diketahui jika prospek properti primer di Bali pada tahun ini masih baik sejalan dengan perkiraan kenaikan harga properti yang wajar di kisaran 5%-10%.

Hal itu disebabkan pada tahun ini terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai positif mendukung dunia usaha dan ketenagakerjaan, seperti harga BBM yang mengalami revisi, termasuk kebijakan subsidi BBM yang tetap, meski harga BBM naik turun mengikuti harga pasar, di samping juga kenaikan UMP yang tidak tinggi.

Sementara itu Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Bali I Gusti Made Aryawan mengakui pada 2014 pengembang properti menghadapi kendala berat paskaterbitnya kebijakan loan to value (ltv) dan suku bunga tinggi.

Akibat kondisi itu, banyak pengembang memilih membangun rumah tipe kecil dan menghindari rumah tipe besar.

Pasalnya selain masalah ltv, pengembang di Bali juga terkendala masalah harga tanah yang cepat melambung.

Alhasil, jelasnya, mereka terpaksa melirik lokasi-lokasi penyangga Denpasar dan Badung yang menjadi pusat perekonomian.

“Kebutuhan rumah tipe kecil di Bali paling besar dibandingkan dengan tipe rumah mewah, kalau yang mewah itu kebanyakan investor,” jelasnya.

properti.bisnis.com