Bingung Investasi? Ingat! Harga Properti di Indonesia Tidak Pernah Turun

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Selain saham dan emas, properti menjadi salah satu pilihan investasi yang patut dipertimbangkan. Investasi properti cukup mudah dan sederhana. Kunci utamanya hanya dua, yaitu lokasi dan tidak terburu-buru menjual. Sebab, properti merupakan investasi jangka panjang dan tidak likuid. “Investasi properti itu paling mudah dan nyaris tanpa risiko, ibaratnya dijemur saja harganya naik sendiri,” ujar Johan, seorang profesional di perusahaan pengembang sekaligus investor properti yang cukup aktif.

Perumahan Menengah

Ilustrasi

Ia mencontohkan investasi tanah atau ruko. Dua jenis properti ini dibiarkan saja harganya bergerak sendiri. Johan punya empat unit apartemen di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Ia juga membeli ruko di beberapa lokasi di Bekasi, sejumlah rumah, dan kaveling di BSD City, Serpong, Tangerang. Ia juga membeli rumah tua di Solo, Jawa Tengah, yang akan disulap menjadi kost-kost-an. Luas tanahnya 600 meter persegi.  Di situ ia membangun 42 kamar dalam bangunan dua lantai. Menurut hitungan Johan, kost-kost-an tersebut akan kembali modal (BEP) dalam tiga tahun.

“Awalnya hanya akan saya bangun satu lantai sebanyak 25 kamar, ternyata pembangunannya baru setengah jalan sudah banyak dipesan. Akhirnya kita jadikan dua lantai di lantai atas ada 17 kamar,” imbuhnya.

Selain mudah, menurut Andy K. Natanael, seorang praktisi pemasaran properti, di Indonesia harga properti tidak pernah turun. Hal ini, katanya, terkait dengan kebutuhan pasar dan regulasi. Ia menyebut, dalam sejarah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang menjadi salah satu patokan harga property tidak pernah turun. Yang terjadi sebaliknya, NJOP selalu naik.

Faktor lainnya adalah permintaan properti cukup besar mengingat Indonesia termasuk salah satu negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia. Sebanyak apa pun property yang ditawarkan akan diserap pasar. Bahkan, di pasaran terjadi ketimpangan, pasok lebih kecil dari permintaan. Ketimpangan penawaran dan permintaan ini membuat harga semakin melejit seperti yang terjadi saat ini.

“Orang Indonesia itu banyak anak, selama masih ada anak dilahirkan, kemudian menikah, permintaan properti khususnya rumah tidak akan berhenti,” ujarnya.

housing-estate.com