Simak Rahasia Ismeth Natakarmana yang Sukses Hidupkan Properti Mati

Big Banner

Ismeth Natakarmana, Chairman One Property

Para pemasar properti di Indonesia yang sudah puluhan tahun berkiprah mungkin tak asing dengan pria yang satu ini. Bahkan, sejawatnya di sejumlah perusahaan properti papan atas punya julukan untuk dia. ‘Spesialis proyek mati,’ demikian label buatnya karena ketangguhan dan keberhasilannya menghidupkan kembali proyek-proyek properti yang sudah megap-megap karena sulit dipasarkan.

“Spesialisasi kami memang di bidang itu, lebih khusus lagi proyek-proyek ruko yang hampir mati,” ungkapnya beberapa waktu lalu kepada rumah123.com di kantornya, kawasan Mall of Indonesia, Kelapa Gading.

Ismeth Natakarmana, Chairman One Property Group adalah pemasar properti generasi awal di Lippo Group, tepatnya orang ketiga di Lippo Land. Orang pertama adalah Eddy Sindoro, kedua Budianto Andreas yang sekarang di Paramount Land, dan dirinya adalah orang ketiga. Hingga hari ini, Ismeth sudah 23 tahun berkiprah di dunia properti.

“Tahun 1992, saya mulainya dari Lippo Cikarang, namanya dulu Bekasi Industrial Estate City. Dua tahun kemudian, tahun 1994, saya membuka usaha sendiri yakni property agent bernama Bussiness Club. Tirta Setiawan, Panangian Simanungkalit, Roy Gosjen yang jagoan apartemen itu teman-teman saya semua.”

Ismeth adalah satu dari tiga jagoan pemasar properti di Jakarta. Dengan spesialisasi di proyek-proyek ruko sekaligus spesialis proyek mati. Ia juga menyebut nama Ali Hanafiah, pemilik Century 21 Pertiwi sebagai jagoan landed house serta Roy Gosjen (IMS) sebagai pemasar jagoan produk-produk apartemen. “Kelemahan saya, saya tidak show off. Tapi sekarang saya harus mengubah itu semua, agar lebih dikenal di luar dan di  dalam bisa berjalan sendiri tanpa saya harus turun tangan langsung.”

Bussiness Club berjalan hingga 2008 yang menangani proyek-proyek primer dari para developer sebagai sole agent. Ada sekitar 150 proyek yang ditangani oleh Ismeth melalui benderanya ini. Bahkan, developer yang sudah memiliki inhouse marketing pun, ketika menggunakan jasanya, akan menempatkan tim internal itu dibawah koordinasi Ismeth.

“Developer cari saya karena mereka tahu kelebihan saya di bidang ini, apalagi kalau proyek mereka sulit sekali untuk dipasarkan.”

Pembicara di Tung Desem Property ini berkisah, gara-gara spesialisasinya ini ia pernah dikomplain developer karena menyebut sebuah proyek sebagai ‘barang mati.’ Ia kemudian menggantinya menjadi ‘spesialis barang sulit.’

Menurut dia, barang sulit itu terbentuk oleh persepsi yang keliru sehingga langkah paling mendasar adalah merubah nama. Nama itu tidak selalu tepat untuk sebuah proyek. Rebranding dulu, karena jika tidak maka pasar akan menganggap bahwa barangnya sama saja. “Saya bisa bikin food street kalau tidak, ruko itu beberapa unit saya kasih gratis untuk pedagang atau restoran sehingga persepsi orang terbentuk bahwa unit-unit itu ternyata laku,” kisahnya.

Saat ini, dengan One Property Ismeth sedang memasarkan 17 proyek primer dari developer seperti proyek Bussiness Point di Tangerang, Bintaro 8 di Tangerang Selatan, Sentra Niaga Bintara di Bekasi Barat, BETOS di Bekasi, Pondok Cabe City Walk, Ribezzi di Nusa Dua Bali dan sederet proyek lainnya yang menyebar hingga ke Kalimantan Timur.

“Orang kalau mau deal sama saya harus coach dulu, mesti bayar dulu karena pernah ada developer, setelah saya kasih tau resepnya, dia bilang ‘wah kalau begini sih gua udah tau’ akhirnya kontrak batal dan apa yang saya kasih tau itu dijalankan dan sukses. Ya enggak apa-apa sih tapi kita kan belajar dari situ.”

Ismeth sangat kenal dengan kelebihannya dalam mengendus sebuah proyek properti. Ia bisa mengetahui sebuah proyek yang tidak berhasil, sesungguhnya memiliki prospek luar biasa. Jika itu ditawarkan kepadanya maka polesannya sudah pasti akan membuat produk itu sukses di pasar. “Yang jadi kelemahan saya adalah, saya tidak bisa mengatakan bahwa proyek ini bagus kalau saya sendiri sudah tahu bahwa sesungguhnya ini barang tidak bagus.”

Tahun ini, Ismeth yakin One Property akan semakin berkibar. Apalagi tren di kalangan developer sekarang yang sebelumnya lebih mengandalkan inhouse marketing, kini sudah mulai menggandeng agen. “Tahun ini saya targetkan 50 proyek yang harus ditangani oleh One Property karena target kita harus mencetak penjualan Rp1 triliun di akhir tahun ini.”

Foto: Ferdinand Lamak

rumah123.com