Pasar Properti Kebal dari Fluktuasi Harga Minyak

Big Banner

JAKARTA – Harga minyak dunia terus mengalami penurunan hingga 60 persen sejak pertengahan 2014. Pagi ini, tercatat harga minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) anjlok menjadi USD48,29 per barel, dan minyak Brent anjlok menjadi USD56,39 per barel.

Managing Director perusahaan properti Lamudi Indonesia Karan Khetan menyebut, anjloknya harga minyak ini tidak berdampak signifikan bagi pasar properti di Indonesia. Pasalnya karena perekonomian di Indonesia didominasi oleh konsumer, dan hanya memiliki kontribusi kecil dari minyak dan gas.

 

“Bagi sebuah ekonomi yang ditenagai oleh konsumer, dan hanya memiliki kontribusi kecil dari minyak dan gas, kebanyakan konsumernya tidak merasakan fluktuasi dari harga minyak dunia, jadi hal ini tidak terlalu berpengaruh. Pasar properti masih akan menghiraukan perubahan ini hingga status quo nya benar-benar berubah,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2015).

Khetan menyebut, sangat menarik jika melihat masalah ini secara terbalik, saat harga minyak dinaikan hingga 44 persen di pertengahan 2013, harga properti juga naik sekitar 35 persen tahun itu. Inilah mengapa pasar tidak kaget lagi dengan kenaikan itu.

Selain itu, ekonomi Indonesia didorong oleh para konsumer. Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia memiliki konsumer yang besar dan konsumsi privat mencakupi hingga 60 persen dari PDB. Bila melihat lebih sedikitnya sumbangan dari industri minyak dalam keseluruhan ekonomi, dampaknya sangat terbatas pada sektor lain dan bahkan lebih sedikit lagi pada pengeluaran konsumen.

“Alasan lainnya mengapa para konsumer nampak tidak terpengaruh dari harga minyak ini adalah karena kebiasaan mereka masih tidak berubah. Dengan harga bensin dan solar sepenuhnya teregulasi, mereka telah merasakan harga bensin Rp6500–Rp6700 selama lebih dari setahun sekarang. Harga ini dinaikan saat pertengahan 2013 hingga November 2014, saat itu dinaikan hingga Rp8.500,” tambahnya.

Namun demikian, lanjut Khetan, kenaikan ini hanya sementara dan kemudian dikurangi hingga Rp 6700 pada Februari 2015. Selain kenaikan sementara itu, harga bensin tidak banyak berubah selama lebih dari setahun belakangan. Karena itu, konsumer Indonesia selama ini terlindungi dari pasar minyak dunia dan tidak terlalu merasakan naik turunnya harga minyak dunia.

(mfa)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me