Pengusaha Tambang Dorong Gelembung Properti Makassar?

Big Banner

MAKASSAR –Pengusaha perumahan makin mengkhawatirkan gelembung properti 2014 akan menghancurkan perekonomian Sulawesi Selatan. Pengusaha tambang tanah disalahkan sebagai penyebab kenaikan harga lahan hingga 1000 persen.

“Mereka ini yang menghabiskan uang untuk menguasai tanah-tanah di Makassar. Kalau tidak ditertibkan maka pembangunan bakal stop,” kata Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Andi Idris Manggabarani, di sela kunjungan ke Expo REI 2013 di Mal Ratu Indah (MaRI), Senin 25 Maret 2013.

Gelembung properti yang berujung pada kredit macet massal di perbankan, menurut Idris, tidak lepas dari kegiatan pengusaha tambang dan tuan tanah. Calo dan pemilik lahan seenaknya mempermainkan harga jual lahan. Pengembang terpaksa menaikan harga rumah lebih dari 100 persen.

Sejak masuknya pengembang nasional, Ciputra Group di Kawasan Kota Baru Hertasning di 2007, harga lahan di Makassar makin mahal. Harga rumah dengan tipe paling kecil ikut melejit. Misalnya rumah tipe 36 yang dulunya dijual Rp100 – Rp150 juta, kini melesat menjadi Rp350 juta – Rp450 juta per unit.

Properti Makassar masuk kawasan dengan harga rumah termahal di Indonesia, menurut Idris, akan berdampak pada terjadinya sabotase pembangunan. “Bisa terjadi sabotase pembangunan. Harga rumah mahal karena tuan tanah memainkan harga lahan,” kata Idris.

Pemerintah daerah dan Badan Pertanahan Nasional (BPN), dinilai lemah dalam control soal pertanahan. Banyak lahan tidur yang harusnya dikuasai pemerintah, berpindah tangan kepada perorangan. “Undang-undang pertanahan harus membatasi kepemilikan lahan. Pemerintah daerah harus menerbitkan aturan yang tegas,” ucap Idris.

Bubble property akibat kegiatan penguasaan lahan juga dibenarkan DPD REI Sulsel. Ketua DPD REI Sulsel, Raymond Arfandy sebelumnya menuduh BPN tidak professional dalam menerbitkan sertifikat lahan. REI Sulsel menuding ada oknum BPN yang bermain dengan pengusaha tambang. “Ada pengembang REI yang pernah diminta duit Rp 1 miliar untuk menerbitkan sertifikat. Ini sudah indikasi mempermainkan pengembang dan harga lahan,” kata Raymond.

SULFAEDAR PAY

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me