Gedung Tinggi, Antara Gengsi dan Reputasi (II)

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Memiliki, dan membangun gedung tinggi, apalagi yang masuk kategori pencakar langit, tak semata soal gengsi, melainkan juga reputasi. Gedung tinggi sama halnya dengan pencapaian klimaks sebuah rekam jejak. Karena, di situlah kredibilitas, kemampuan finansial, tenaga, pikiran, mentalitas, dan nama baik dipertaruhkan.

Tak mengherankan, saat Sahid Sudirman Center rampung pembangunannya dan dibuka pada Sabtu (14/3/2015), Vice President Director Sahid Group, Haryadi B Sukamdani semringah bukan kepalang.

Pasalnya, yang meresmikan pembukaan gedung dengan ketinggian 258 meter dan berisi 59 lantai menurut perhitungan marketing ini adalah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). 

Selain itu, undangan yang ikut menjadi saksi hidup pencakar langit hasil kolaborasi strategis antara Sahid Group, Pikko Land Group, dan Dua Mutiara Group (Tan Kian) ini juga tak sembarangan. Melainkan orang-orang dengan reputasi mencorong.

Sebut saja taipan pendiri imperium Lippo Group, Mochtar Riady, putri tertua Ciputra, Rina Ciputra Sastrawinata, Ketua Umum Golkar 1998-2004, Akbar Tanjung, Menteri Negara Investasi Indonesia 1999, Marzuki Usman, serta raksasa-raksasa properti lainnya, termasuk Nio Yantoni dari Pikko Land Group. 

Pembangunan pencakar langit, seolah menjadi sebuah keharusan. Karena pencakar langit juga bisa dianggap sebagai identitas dan ikon paling kuat yang membangkitkan kesadaran publik. Ketika orang bertanya ikon kota Kuala Lumpur atau Malaysia paling tersohor, pasti jawabannya adalah Petronas Twin Tower yang menjulang 452 meter. Ketinggiannya ini masuk dalam kategori supertall (gedung di atas 300 meter).

Demikian halnya ketika publik bertanya mengenai Dubai, Uni Emirat Arab, pasti tak lepas dari Burj Khalifa yang mengangkasa 828 meter sehingga masuk dalam kategori megatall  (gedung dengan ketinggian di atas 500 meter). 

Menurut Haryadi, meskipun di Jakarta banyak dibangun pencakar-pencakar langit, namun Sahid Sudirman Center diharapkan dapat menjadi kebanggaan dan salah satu ikon kota. Dengan kata lain, Sahid Sudirman Center merupakan sebuah signature property  yang menjadi kebanggaan. Setidaknya bagi Sahid Group, Pikko Land Group, dan Dua Mutiara Group. 

“Tak akan ada lagi gedung seperti ini yang akan kami bangun. Mungkin jangka waktu lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan setengah abad sekalipun. Oleh karena itu, kami mengerahkan segala kemampuan, keahlian, dan juga dukungan finansial agar Sahid Sudirman Center ini menjadi kebanggan,” tutur Haryadi kepada Kompas.com, Sabtu (14/3/2015).

Jakarta atau Indonesia sendiri Menurut Editor Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), Daniel Safarik, masih kalah dibanding Malaysia jika dilihat dari ketinggian gedung dengan kategori supertall eksisting. Malaysia unggul sebanyak tiga gedung, yakni si kembar Petronas Tower dan Menara Telekom.

Bahkan, bila dibandingkan dengan Thailand pun, Indonesia masih ketinggalan. Negeri gajah putih ini sudah memiliki Baiyoke Tower II yang melangit dengan tinggi 304 meter.

Meski begitu, untuk supertall yang masih dalam tahap konstruksi, Indonesia justru berada di urutan atas di antara sesama negara Asia Tenggara dengan tiga gedung. Menyusul Malaysia dua gedung, dan Thailand satu gedung.

Selain gedung eksisting dan dalam tahap konstruksi, CTBUH juga mencatat proyek-proyek proposal di ketiga negara ini. Malaysia tampil sebagai negara dengan proyek proposal terbanyak yakni lima proyek.

Indonesia mengekor di tempat kedua dengan empat proyek. Dua di antaranya megatall  Signature Tower Jakarta setinggi 638 meter dan Pertamina Energy Tower (523 meter). Dua lainnya merupakan supertall yakni Peruri 88 (389 meter), dan Arthaloka Square (360 meter).

Persaingan 

Dalam kosntelasi properti aktual, pencakar langit juga merupakan wahana persaingan antar-pengembang properti. Beberapa raksasa properti sedang mempersiapkan berdirinya beton-beton jangkung yang akan mengubah cakrawala Jakarta.

Di antaranya adalah Lippo Group dengan St Moritz Tower di Puri Indah, Jakarta Barat. Ketinggian gedung ini direncanakan menjulang 275 meter. Kemudian PT Putra Gaya Wahana dengan Thamrin Nine Tower setinggi 333,5 meter, Astra Land dengan Menara Astra setinggi 270 meter, Ciputra Group dengan Raffles Hotel setinggi 253,3 meter, dan Sinarmas Land dengan MSIG Tower setinggi 245 meter.

Selain pengembang properti, perusahaan lain dengan bisnis inti non-properti juga tak mau kalah membangun pencakar langit pohon-pohon beton. Termasuk Djarum Group dengan Menara BCA yang mendongak 230 meter. Cemindo Tower yang bakal menjadi supertall pertama di Indonesia dengan 304 meter jika pengembangannya rampung tahun ini.

Baca juga: Gedung Tinggi, Antara Gengsi dan Reputasi

properti.kompas.com