Kebun Makanan Hasil Cetak 3D Siap Disantap

Big Banner

KOMPAS.com – Konsep makanan masa depan mulai melibatkan mesin pencetak tiga dimensi (3D). Cara kerjanya sederhana saja yakni dengan menggunakan material yang berfungsi sebagai wadah kecil untuk pemupukan bibit, memproduksi dua lapisan makanan, dan bertumbuh secara berkelanjutan.

Menariknya, konsep makanan hasil cetakan 3D ini hanya menyisakan sedikit sisa makanan serta memberikan konsumen hubungan yang dekat dengan tempat makanan berasal.

Adalah Chloe Rutzeveld, lulusan Eindhoven University of Technology, yang menciptakan konsep bertajuk Edible Growth. Dia menghabiskan waktu satu tahun untuk mengembangkan konsep Edible Growth.

Konsep ini dapat berfungsi ketika Anda mencetak struktur bundar substansi adonan makanan dan menyelimuti lapisan adonan hingga renyah saat dimasak. Sama seperti saat Anda membuat kue.

“Struktur tersebut mampu bertindak seperti eksoskeleton untuk sesendok agar-agar, sebuah jeli dari alga yang menjadi pengganti tanah bagi jamur atau selada air. Dibutuhkan beberapa hari hingga jamur tersebut tumbuh. Pada titik tertentu, jamur ini dapat dipadukan dengan bumbu atau rempah-rempah untuk dimakan utuh” jelas Rutzeveld.

Kebun makanan “aneh” ini merupakan salah satu jenis penemuan makanan yang Anda prediksi terdapat pada restoran dan laboratorium mahal. Namun, Rutzerveld justru tidak berpikir demikian. Dia lebih tertarik mengatasi isu kesehatan dan produksi pangan di  negara berkembang. 

Rutzerveld membayangkan Edible Growth terdapat di pasar swalayan, saat pesanan makanan sesuai permintaan mampu dipasok lebih cepat, tidak boros, serta menjadi alternatif rantai makanan dengan sumber daya besar kebanyakan.

“Jamur tak membutuhkan banyak tempat penyimpanan. Ini seperti ekosistem ringkas,” lanjut Rutzerveld.

Namun begitu, Edible Growth harus mampu mengatasi berbagai masalah sebelum dimasukkan ke pasar. Salah satunya adalah masalah arsitektural.

“Karena struktur Edible Growth membutuhkan lebih banyak pendukung daripada bahan organik yang biasanya dikembangkan. Memperbaiki hal tersebut mengharuskan adanya improvisasi piranti keras dan lunak dari cetakan 3D,” ungkap Rutzerveld.

Dalam skala besar, Edible Growth memerlukan jenis infrastruktur baru, seperti pasar swalayan yang dilengkapi dengan cetakan 3D dan pegawai terlatih dalam hal tersebut. Rutzerveld memperkirakan akan mendapatkan aspek teknikal yang baik dalam jangka waktu 10 tahun. Secara kebetulan juga, menjadi waktu yang panjang bagi masyarakat untuk menyukai agar-agar.


properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me