Raffles Jakarta, Pesaing Berat Keraton at The Plaza

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Jika harus memetakan persaingan antar-hotel mewah, bahkan super-mewah di Jakarta, maka hanya segelintir nama yang pantas masuk di dalamnya.

Segelintir dalam pusaran pasar eksklusif atau niche market  tersebut adalah Keraton at The Plaza Luxury Collection, di kawasan Thamrin, The Ritz-Carlton Pacific Place di CBD Sudirman, Jakarta Pusat, dan Raffles Jakarta di koridor Satrio, Jakarta Selatan.

Nama terakhir baru saja dibuka secara resmi pada Senin (16/3/2015). Sementara dua lainnya sudah lebih dulu hadir dengan masing-masing keunggulan mulai dari lokasi premium, kualitas layanan, hingga kelengkapan fasilitas yang dibutuhkan kalangan atas (high end).

Menurut Direktur PT Ciputra Property Tbk., Artadinata Djangkar, Raffles Jakarta menawarkan standard baru industri perhotelan di Jakarta, dan bahkan Indonesia. Standard baru ini terletak pada kualitas terbaik dari layanan, makanan, kamar, komponen material bangunan, pengelolaan, hingga sumber daya manusianya.

“Raffles Jakarta adalah standard terbaru bisnis dan industri perhotelan di Jakarta. Kami menawarkan semua hal yang dibutuhkan untuk memenuhi gaya hidup para tamu kelas atas, pebisnis, maupun profesional baik korporat maupun individu,” papar Arta saat media launch, Senin (16/3/2015). 

Raffles Jakarta serupa dengan Raffles Singapura maupun kesepuluh hotel lainnya yang tersebar di kota-kota dunia, macam Dubai, Istanbul, Phnom Penh, Hainan, maupun Shenzhen. Yang membedakan hanya pada bangunannya. Raffles identik dengan heritage building. Sementara Raffles Jakarta merupakan bangunan modern yang “diartikulasikan” menjadi klasik, grande, sekaligus mewah.

Hotel dengan jumlah kamar 173 unit ini dirancang dengan pendekatan interior khas Hirsch Bedner Associates (HBA) perusahaan konsultan arsitektur dan desain interior asal Singapura. Tampilan lobi yang megah dengan ceiling setinggi 9 meter lengkap dengan lampu kristal asal Republik Ceko, dan kaca-kaca vintage, serta lukisan Melasti karya Hendra Gunawan tak menampik kesan itu.

Demikian halnya dengan desain kamar-kamar, restoran, ball room, ruang pertemuan, hingga ruang kebugaran, dan spa yang “kompromis”, mengakomodasi seluruh kepentingan. Baik kepentingan Ciputra sebagai pemilik gedung, Raffles Hotels and Resorts sebagai pengelola, dan tak lupa karya Hendra Gunawan dengan lukisan dan art work  “turunannya” yang berkontribusi besar menjadikan hotel ini berbeda.

Sales Manager Raffles Jakarta, Farizka Antono, menjelaskan, salah satu layanan yang tak dimiliki hotel supermewah lainnya adalah butler services untuk setiap tamu.

“Kami menawarkan pengalaman berupa butler services kepada setiap tamu yang datang. Begitu check in, dan masuk kamar butler sudah siap sedia melayani selama 24 jam,” tutur Farizka.

Untuk mendapatkan layanan dan pengalaman bak “raja” dan “ratu” pada zaman kolonial, tamu harus merogoh kocek 425 dollar AS hingga 7.500 dollar AS. Jika dikonversi ke dalam Rupiah, tarif reguler tersebut akan menjadi sekitar Rp 5,6 juta untuk kamar berukuran 60 meter persegi, dan nyaris Rp 100 juta untuk presidential suite dengan dimensi 396 meter persegi.

Farizka mungkin lupa, bahwa butler service  untuk setiap tamu juga telah diterapkan Keraton At The Plaza Luxury Collection di koridor Thamrin, Jakarta Pusat. Ini merupakan satu dari dua tier  paling mewah Starwood Group. 

Butler service di hotel milik PT Plaza Indonesia Realty Tbk tersebut diklaim sebagai yang pertama di Jakarta. Selama 24 jam tamu akan dilayani penuh. Kekuatan Keraton at The Plaza memang ada pada concierge namun butler service-nya belum ada yang menyamai hingga kemudian Raffles Jakarta beroperasi, dan kelak The St Regis Jakarta, serta Waldorf Astoria Jakarta.

Sejatinya butler service merupakan keistimewaan sekaligus “ciri dagang” The St Regis yang juga merupakan bagian dari Starwood Group. Layanan butler ini kemudian diadopsi dan diterapkan di hotel yang memiliki tiga tipe kamar tersebut; grand deluxe (64 meter persegi), junior suite (75 meter persegi), dan keraton suite (140 meter persegi). Tarifnya mulai dari 300 dollar AS hingga 2.000 dollar AS.

Ceruk sempit

Arta mengakui pasar hotel supermewah di Jakarta, dan Indonesia, ceruknya demikian sempit. Jumlah kamar pun terbatas. Oleh karena itu, target tingkat okupansi pun tak muluk-muluk.

“Sekitar 60 persen pada tahun pertama saja sudah bagus. Dan kami menargetkan dari pengoperasian hotel Raffles Jakarta, perseroan akan mendulang pendapatan berkelanjutan sekitar Rp 80 miliar hingga Rp 90 miliar dari total target pendapatan perseroan Rp 1 triliun tahun ini,” ungkap Arta.

Hanya pengembang besar dengan ‘nafas’ finansial panjang yang mampu membangun hotel-hotel yang identik dengan kalangan ultra high net worth individual (UNHW) ini.

Di Jakarta, selain PT Ciputra Property Tbk, segelintir lainnya adalah Dua Mutiara Group dengan The Ritz Carlton Pacific Place, PT Mahkota Prima Properti (Rajawali Group) yang akan membuka The St Regis Jakarta pada 2017, dan PT Putra Gaya Wahana dengan Waldorf Astoria Jakarta.

Mereka dikategorikan sebagai boutique developer dengan spesialisasi properti-properti mewah, dan supermewah.

properti.kompas.com