Penjualan Rumah di Singapura Merosot 48 Persen

Big Banner

KOMPAS.com – Setelah Tiongkok dikabarkan mengalami penurunan harga rumah karena kelebihan pasokan, Singapura malah kelebihan permintaan, sehingga pemerintah memberlakukan kebijakan untuk menurunkan tingkat penjualan rumah.

Pada Februari 2015, penjualan hunian di Singapura merosot 48 persen dari tahun lalu karena adanya upaya pemerintah untuk meredam kredit pembelian rumah.

Menurut data Urban Redevelopment Authority, pengembang hanya mampu menjual 382 unit pada bulan lalu. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, pengembang berhasil menjual 739 unit.

Kinerja tersebut merupakan terendah selama enam tahun terakhir sejak 2008. Penjualan turun hingga 7316 unit tahun lalu dari 2013.

“Sisa unit tahun ini juga terlihat rendah. Sampai akhir 2014 tingkat transaksi penjualan rumah baru menurun,” ujar direktur eksekutif di SLP International Property Consultants di Singapura, Nicholas Mak.

Pemerintah mulai memperkenalkan regulasi untuk meredam pertumbuhan properti residensial pada tahun 2009 bersuku bunga rendah. Pemerintah khawatir melihat permintaan dari pembeli asing bisa membuat pasar properti “terlalu panas”.

Harga properti sempat melonjak 40 persen dalam lima tahun. Puncaknya, pada 2013 harga properti mencapai rekor tertinggi. Hal ini mendorong pemerintah melakukan beberapa langkah pengetatan, termasuk menutup biaya pembayaran utang sebesar 60 persen dari pendapatan bulanan peminjam, bea materai yang lebih tinggi dalam pembelian rumah dan peningkatan pajak properti.

Hasilnya, harga perumahan turun 4 persen pada tahun 2014. Di antara pengembang yang mulai menawarkan proyek-proyek pada Februari adalah Sims Urban Oasis Pte, yang terjual 112 unit dari total 200 unit.

“Jumlah unit yang dipasarkan pada bulan Februari turun sekitar setengah dibanding Januari,” kata Mak.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me