Bangkitnya Kawasan Si Manis Jembatan Ancol

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Legenda “Si Manis Jembatan Ancol”, pernah identik dengan kawasan Ancol, di pantai utara Jakarta. Namun demikian, hal itu tak menyurutkan investor dan pengembang menggarapnya untuk dikembangkan menjadi properti eksklusif tepi pantai.

Setelah sempat vakum pengembangan untuk jangka waktu lama, dan tertinggal dari kawasan lainnya seperti Pluit, Pantai Indah Kapuk, dan Kelapa Gading, Ancol teraktual justru memperlihatkan geliat pertumbuhan properti, khususnya hunian. 

Nama besar macam Agung Sedayu Group, ikut berkontribusi mendongkrak kawasan ini menjadi potensial sebagai ladang investasi properti dengan “nilai tambah” wisata tepi pantai. 

Bahkan PT Pembangunan Jaya Ancol, sebagai pemilik konsesi pengembangan lahan, mulai rajin melansir produk-produk properti baru. Teranyar adalah Jaya Ancol Sea Front. Ini merupakan proyek apartemen yang akan dibangun sebanyak 1.088 unit dalam dua menara. Dilengkapi griya tawang sebanyak 26 unit. 

Tak tanggung-tanggung, estimasi gross development value Jaya Ancol Sea Front ini senilai Rp 2,5 triliun. Pemasaran secara resmi akan dimulai pada 23 Mei 2015 mendatang.

Kepala Divisi Properti I PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., Roysan Aruan, menjelaskan, perseroan sejatinya memiliki banyak rencana untuk menjadikan Ancol sebagai kawasan wisata regional terbesar di Asia Tenggara. Untuk mendukung ambisi tersebut, perseroan merintisnya dengan berbagai pengembangan baru.

“Kami punya rencana jangka pendek yang akan menjadikan kawasan Ancol menarik untuk investasi. Terutama investasi properti pariwisata. Ada lima penegmbangan baru dalam jangka pendek yang akan kami realisasikan,” tutur Roysan, kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (17/3/2015).

Proyek pertama, kata Roysan, adalah pengembangan pantai baru di Ancol Timur seluas 120 hektar. Kedua, pengembangan Dufan Ocean yang merupakan taman bertema di pulau rekayasa seluas 32 hektar. Berikutnya, Ancol Walk yang merupakan area komersial di Ecopark Ancol, seluas 33 hektar. Keempat, pengembangan pusat belanja baru di Hailai.

“Terakhir, pengembangan terkait rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka akses mass rapid transit di Ancol Timur, Kampung Bandan, dan Sunter,” ujar Roysan.

Perseroan, lanjut Roysan, akan menggandeng mitra-mitra strategis baik nasional maupun asing untuk merealisasikan rencana besar tersebut. Sejauh ini, mitra strategis yang telah memberikan komitmen untuk membangun, adalah perusahaan investasi asal Hongkong. Mereka, kata Roysan, akan menggarap pusat belanja Hailai. 

“Kepemilikan masing-masing 50:50. Lahannya sudah ada, sekitar semester kedua akan mulai dikerjakan,” ucap Roysan.

Roysan mengklaim, potensi Ancol tak kalah dengan kawasan lainnya yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang menjadi area matahari terbit (sunrise). Ancol mudah diakses dengan berbagai moda transportasi berbasis jalan tol, arteri, maupun rel. 

Selain itu, Ancol juga telah lama popular menjadi kawasan wisata dengan Dufan dan pantai sebagai kekuatan utama. Banyak investor dari luar Jakarta yang mengincar kawasan ini untuk dijadikan sebagai instrumen investasi.

“Investor tersebut berasal dari Medan, Makassar, Manado, Balikpapan, Surabaya, dan mancanegara. Mereka berbisnis di Jakarta, dan membeli hunian di sini sebagai tempat transit sementara untuk keluarganya,” tutur Roysan.

Minat yang tinggi itu, tambah Roysan, dibuktikan dengan terserapnya rumah bandar Coasta Villa sebanyak 30 unit, dengan pertumbuhan harga 20 persen per tahun. Harganya saat ini sudah menyentuh level Rp 30 miliar. Sementara luas per unit 8 x 18 meter persegi dan 9 x 25 meter persegi. 

properti.kompas.com