Tahun ini Bisnis Properti Belum Bergairah

Big Banner

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bisnis properti di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi tahun 2003 ini belum menunjukkan angka pertumbuhan yang signifikan.

Kesimpulan tersebut disampaikan Jay Smith, penasihat teknis Paragon Property Consultant, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (16/9).

Menurutnya, pasar properti di Jabotabek dikategorikan meledak jika semua sektor properti, seperti perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, apartemen, tempat hunian, dan industri mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan itu, lanjutnya, pada prinsipnya harus dikendalikan oleh besarnya permintaan, serta meningkatnya tingkat kepemilikan dan sewa hunian.

Namun dari semua sektor properti yang ada, Jay berpendapat hanya sektor retail atau pusat perbelanjaan yang mengalami pertumbuhan. “Tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jabotabek memiliki kenaikan 92,6 persen,” katanya. Penawaran kontrak sewa pusat perbelanjaan, menurutnya, secara umum stabil selama kuartal ini. “Tapi, tingkat sewa dan pertukaran efektif meningkat pada kuartal sebelumnya,” katanya.

Jay mengatakan, sektor retail adalah satu-satunya pasar yang sehat. Sebabnya, kata dia, sektor retail ini sebagian besar dikendalikan oleh konsumen dan permintaan para pedagang. Kendati demikian, ia menambahkan, penambahan gedung dan spekulasi yang berlebihan dapat merusak pasar tersebut.

Sektor lainnya yang mendapat penilaian yang cukup baik adalah tempat hunian. Menurut Jay, tempat hunian memiliki potensi yang cukup baik untuk memperbaiki minat konsumen yang selama ini menurun. “Namun, tempat hunian tersebut tidak termasuk rumah sederhana atau rumah sangat sederhana,” katanya.

Selanjutnya, Jay menjelaskan, sampai kwartal ini, bisnis properti di sektor industri masih cukup lemah. Alasannya, sektor ini berpotensi menyebabkan berpindahnya para pengusaha untuk menginvestasikan usahanya ke negara lain.

Sementara itu, Willie L. Prasetio mengatakan, sampai kwartal ini, masih banyak apartemen yang belum terjual. “Hal itu terjadi karena para investor hanya mengontrol penjualan tidak lama setelah peluncuran proyek,” katanya. Sedangkan tingkat permintaan untuk apartemen sewa juga masih rendah.

Willie melanjutkan, sektor perhotelan juga masih lemah karena adanya tingkat hunian yang rendah. “Untuk bulan Agustus saja, setelah peristiwa bom Marriot, telah terjadi penurunan tingkat hunian rata-rata 10 persen di tiap hotel,” katanya, sambil menambahkan,”secara menyeluruh, dari tahun ke tahun, tingkat hunian pada kwartal yang sama berkurang 2,9 persen.” Selain itu, kata dia, lemahnya sektor perhotelan juga disebabkan karena masih banyaknya hotel yang tengah dibangun atau masih dalam tahap konstruksi.

yandhrie arvian/TNR

properti.tempo.co