Harga Properti Diprediksi Naik Sampai 15 Persen

Big Banner

TEMPO Interaktif, Jakarta:Akibat kenaikan harga BBM, listrik, dan telepon, awal tahun 2003, sedikit banyak memicu kenaikan harga bangunan sebesar 10-15 persen. Hal ini disampaikan oleh Ketua umum Real Estate Indonesia (REI) Yan Mogi. “Mau nggak mau ikut naik karena harga bangunan otomatis naik,” ujarnya kepada wartawan, Jakarta, Rabu siang (8/1) di kantornya.
Menurutnya kenaikan harga tidak bisa dipungkiri lagi.

Tetapi dirinya tidak menampik jika ada developer yang tidak menaikkan harga. Hal itu dimungkinkan karena menjual stok lama atau tidak mengambil keuntungan. “Mungkin saja kalau ada developer yang butuh dana cepat daripada tidak menjual sama sekali. Karena daya beli masyarakat rendah,” ujar Yan. Lebih lanjut REI memerlukan konsistensi dan ketegasan dari pemerintah mengenai subsidi KPR untuk rumah sehat sederhana (RSS).

Subsidi KPR, menurutnya sangat dibutuhkan rakyat kecil sehingga dirinya menolak jika subsidi tersebut hendak dihapuskan. “Yang merasakan subsidi adalah rakyat kecil bukan developer,” kata Yan. Dirinya menambahkan subsidi KPR ini yang penting bukanlah target kapan harus dihapuskan, tetapi kapan bunga dari bank dapat terjangkau. Jika SBI sudah mencapai 10 persen baru subsidi bisa dihapuskan.

Untuk tahun 2003 Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah menargetkan 180.000 unit rumah sehat sederhana. Menurut Yan Mogi hal itu sangat mungkin dilakukan namun tergantung kapan subsidi dari pemerintah diturunkan. Pada tahun 2002 REI menargetkan 130.000 rumah sehat sederhana tetapi hanya terealisasi sekitar 30.000.

Melihat realitas kondisi saat ini Ketua Umum Real Estate Indonesia tidak menargetkan penjualan. “Tidak turun seperti tahun 2002 saja sudah bagus,” ujarnya. Untuk menaikkan target akan sulit dilakukan karena daya serap masyarakat akan turun apalagi ditambah dengan kenaikan harga. Sebenarnya menurut Yan kenaikan harga sebanding lurus dengan naiknya harga bahan bangunan. Hanya daya beli masyarakat yang masih kurang. REI sendiri masih akan meneliti daya beli masyarakat itu.

Menghadapi tahun 2003 DPP REI tetap optimis. Hal ini terlihat dari para anggota Rei yang aktif kembali dalam bisnis properti. Akhir tahun 2001 jumlah anggota 1990 dan akhir tahun 2002 naik sebesar 9 persen menjadi 1300 anggota. Menyadari perkembangan situasi saat ini DPP REI tetap mengharapkan penyelesaian kebijakan Depkimpraswil mengenai perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Sehingga subsidi untuk RSS perlu dipertahankan.

Priandono — TNR

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me