Tinjauan Harga Saham Akhir Tahun Emiten Properti (Revisi)

Big Banner

Jakarta, Mpi-update. Pusat data majalah Properti Indonesia melakukan pantauan fluktuasi harga saham sejumlah emiten properti di Bursa Indonesia (BEI). Mulai dari harga pembukaan pada awal Januari 2014 hingga harga penutupan akhir November 2014. Dari 45 perusahaan yang tercatat, beberapa di antaranya tumbuh melesat hingga lebih dari 100%. Tidak sedikit juga yang stagnan serta ada pula yang terjun bebas ke titik minus.

Potret pertumbuhan nilai saham masih didominasi emiten dari grup-grup raksasa. Di antaranya Ciputra Group melalui PT Ciputra Surya, Tbk yang tumbuh hingga 115%, dan kinerja minus terendah PT Gading Development Tbk (GAMA) minus 27%. Sementara PT Sentul City Tbk (BKSL) yang tahun sebelumnya berkinerja positif, sejak 11 bulan terakhir menunjukkan minus.

CTRS Tertinggi

PT Ciputra Surya (CTRS) mencatat pertumbuhan nilai saham tertinggi 115% di antara 45 emiten properti di bursa. Pada pembukaan Januari 2014 harga sahamnya Rp 1.310/lembar naik mencapai Rp 2.815/lembar. Hal ini tentu tidak lepas dari agresifitas dan aksi koporasi yang dilakukan.

Kuwartal III 2014 tercatat memiliki aset lebih dari Rp 6 triliun, land bank yang belum dikembangkan mencapai Rp 1,3 triliun, dengan kapitalisasi pasar per tengah tahun 2014 di atas 4 Triliun. Masih di kwartal yang sama emiten yang didukung 685 karyawan ini mencatat sales revenue Rp 1.096.Triliun , naik dari periode yang sama tahun lalu, Rp 923.617 Miliar, atau kurang dari target tahun 2014 sebesar Rp 1,8 triliun.

Tahun 2015 CTRS berambisi mengincar pertumbuhan penjualan 20% melalui pengembangan proyek-proyek di Kawasan CitraLand Surabaya. Salah satu andalannya adalah proyeknya adalah rumah pintar mewah berada di kawasan Stonegate Park Citraland Surabaya yang harga terendahnya mulai Rp 7 miliar per unit.

Rumah yang hanya dibangun 11 unit ini dilengkapi kecanggihan peralatan pemantau keamanan jarak jauh, pengaturan lampu, listrik dan AC berbasis android. Dari penjualan 11 unit rumah mewah ini setidaknya minimal CTRS akanmengantongi sekitar Rp 81miliar. CTRS juga masih memiliki lahan yang masih cukup luas di CitraLand dan Green Lake Surabaya. Beberapa proyek lainnya tersebar di Jawa Timur,Medan, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Semarang, dan Jogjakarta.

Business model yang dikembangkan CTRS sebagian besar bertumpu pada penjualan property development dengan perputaran yang cepat. Sisanya bersifat pendapatan berkelanjutan (recurring income). Hal itu tercermin dari kontribusi terbesar berasal dari 15 proyek residensial yang tersebar di berbagai kota, dua proyek apartemen, hotel, dan SOHO.

Sentul City Pasca Kasus Hukum

“Kejatuhan” nilai saham Sentul City agaknya memang sulit dilepas dari kasus hukum yang menjerat orang nomor satu di perusahaan tersebut. Seperti diketahui, Presiden Direktur PT Sentul City Kwee Cahyadi Kumala awal Oktober lalu ditangkap KPK karena diduga terlibat dalam kasus suap alih fungsi lahan hutan lindung yang juga melibatkan walikota Bogor Rahmat Yasin.

BKSL adalah pengembang yang membangun dan mengelola township Sentul City seluas 3100 hektar dan belum seluruhnya dikembangkan. Di samping menjual perumahan, juga membangun sejumlah ruang perkantoran, tempat rekreasi, pusat belanja, sekolah, rumahsakit, perkantoran yang berkongsi dengan pihak lain guna menggenjot pendapatan dari penyewaan properti.

Kapitalisasi pasar BKSL hingga pertengahan Desember 2014 tercatat Rp 3.33 triliun. Harga saham BKS per 1 Mei 2014 masih berikasar di Rp 172/lembar. Angka ini relatif baik bila dibandingkan dengan harga per 1 Oktober 2014 saat di mana bos BKSLitu tersandung masalah hukum yang menyebabkan nilanya langsung terjun bebas menjadi Rp 94/lembar.

Sentul City masih memiliki peluang besar untuk bangkit kembali melihat total aset pertengahan 2014 di atas Rp 10 triliun. Land banking di kawasan Sentul City yang belum dikembangkan mencapai sekitar 1600 hektar. Perusahaan ini juga melengkapi diri dengan sejumlah properti sewa sebagai sumber pendapatan berkelanjutan.

Kinerja manajemen Sentul City selama setahun sebelumnya, pada 2013, sebenarnya cukup cemerlang. Dari aspek pertumbuhan pendapatan naik Rp 961.988 hingga 54% dari sebelumnya. Begitu pula laba bersih tahun lalu naik di atas 170%.

Tahun 2015 BKSL menyiapkan Rp 700 miliar untuk belanja modal guna menyelesaikan proyek sedang berjalan dan beberapa proyek baru. Sumber dana kata Wakil Direktur Sentul City Andrian Budi Utama belum lama ini, 80% dari kas internal dan sisanya pinjaman bank. MG

 

mpi-update.com