Waspadalah, Jika Investasi Lahan di Jalur Alternatif Puncak II

Big Banner

Jalur Alternatif Puncak II direncanakan membentang dari Desa Hambalang di Kecamatan Babakan Madang sampai Pacet di Cipanas, Puncak. Jalan sepanjang 48 km itu membelah perbukitan berudara sejuk dengan pemandangan yang cukup memesona. Di beberapa titik bahkan ada yang melalui objek wisata air terjun yang dikelola aparat desa.

Sejak tersiarnya kabar akan ada pembukaan lahan untuk jalan itu pada 2010, mendadak sontak harga tanah merangkak naik. Menurut Camat Sukamakmur Zaenal Ashari, tahun 2009 harga tanah seperti tak ada artinya yaitu masih di kisaran Rp6 ribu per meter. Setelah sempat melonjak menjadi Rp40 ribu-75 ribu per meter untuk yang di pinggir  jalan, sekarang sudah sulit mencari lahan seharga Rp 200 ribu per meter. Di daerah pedalaman yang jauh dari jalan utama dari semula di bawah 25 ribu, sekarang sudah bertengger di Rp100 ribuan per meter.

Biong alias calo tanah atau spekulan, pun terus berkeliaran. Baik itu biong bermodal dengkul yang mangkal di warung-warung pinggir jalan atau pun yang bermobil mewah hasil sewaan. Biong bermodal dengkul biasanya membidik calon pembeli tanah awam yang tak faham seluk beluk jual-beli tanah. Kepada targetanya biong ini menawarkan sebidang lahan di lokasi tertentu dengan harga yang biasanya jauh di bawah pasaran. “Korban” yang tergiur iming-iming harga yang murah biasanya langsung memberi tanda jadi yang mencapai jutaan rupiah.

Transaksi yang biasanya berlangsung di bawah pohon atau di warung itu, dipastikan adalah tindak penipuan. “Jangan percaya pada biong. Tanah yang mereka tawarkan tidak pernah ada. Kalaupun ada, itu tanah milik orang lain yang tidak dijual,” kata Nasib, pria asal Aceh yang sudah banyak makan asam garam dalam pembebasan lahan di kawasan Hambalang, Kecamatan Babakan, Kabupaten Bogor, untuk kepentingan sejumlah proyek perumahan.

Biong tipe kedua, menurut Nasib, cukup perlente. Naik mobil sewaan dan berpenampilan rapih. Mereka biasanya telah membeli lahan dari sejumlah warga sampai berjumlah ribuan meter persegi. Lahan ini kemudian ditawarkan lagi kepada calon konsumen lain.

Apakah biong perlente ini bisa dipercaya? “Belum tentu juga. Tanah yang mereka jual juga belum tentu memiliki surat-surat resmi. Jadi tetap saja harus waspada,” tambah Nasib.

Lalu, bagaimana cara membeli lahan yang aman jika hendak berinvestasi di kawasan Jalur Alternatif Puncak II yang prospektif itu? Nasib, yang kini dipercaya menjaga sejumlah lahan milik “orang berduit” di Hambalang, menyarankan agar jangan ada serah terima uang apapun sebelum membuktikan kepemilikan sah atas tanah dari si penjual. “Yang paling mudah adalah dengan mengeceknya ke BPPN Kabupaten Bogor. Di sana sudah jelas siapa saja pemilik lahan di sini,” ujar Nasib.

Lahan di Hambalang, menurut Nasib, kebanyakan berstatus Hal Guna Usaha dan jarang yang berdasarkan sertifikat Hak Milik dan surat resmi lainnya. Karena itu dia menyarankan jika hendak berinvestasi di Hambalang adalah dengan membeli lahan HGU dari warga dalam skala luas dan mengusahakannya menjadi perkebunan pohon produktif. Namun konsumen harus siap sewaktu-waktu lahan itu diambil pemerintah untuk kepentingan umum.

Cara investasi kedua adalah dengan membeli lahan dari sejumlah orang yang telah memiliki surat-surat lengkap seperti sertivikat dari BPPN (Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Bogor. Mereka ada yang menjual per “geblog” (dalam skala besar hingga mencapai ribuan hektar) atau per kavling berukuran ratusan meter persegi saja. Nasib mengaku sebagai orang yang dipercaya oleh beberapa pemilik tanah skala luas yang telah bersertifikat itu.

“Kalau ada berminat saya pertemukan dengan bos. Saya tidak mau menawarkan tanah yang tidak jelas. Berat hukumannya di akhirat nanti,” katanya sungguh-sungguh.

Sedangkan jika Anda berminat membeli tanah per kavling, di kawasan Hambalang kini ada beberapa pemilik lahan yang menawarkannya. Yang paling getol memasarkan lahan dengan beriklan di website miliknya adalah pemilik Kavling Gardenia. Dia menyiapkan kavling dalam berbagai ukuran lahan dan harga. Dalam situs khususnya, pengelola Gardenia menyebut harga kavling mulai dari Rp5.500 per meter persegi dengan luas mulai dari 500 meter persegi sampai 2000 meter persegi.

“Gardenia ini adalah tanah kavling terlaris pada saat ini. Dengan prospek bagus dan memiliki nilai investasi yang tinggi,” tulis pengelola Gardenia dalam websitenya dengan bahasa yang provokatif.

Anda berminat? Silakan saja. Tapi tetap: waspadah! HS

 

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me