Koridor Arteri Pondok Indah, Permintaannya Tak Kenal Surut

Big Banner

Awal tahun ini rencana pembangunan proyek MRT (mass rapid transit) kereta bawah tanah (subway) kembali diwacanakan. Berbagai pro-kontra menghampiri wacana tranportasi publik ini. Beberapa pihak mengungkapkan bahwa pembangunan MRT Jakarta ini juga diharapkan memberikan dampak positif lain bagi warganya, yakni penurunan waktu tempuh dan meningkatkan mobilitas.

Integrasi transit-urban itu diprediksi juga bisa mendorong pertumbuhan properti pada area sekitar stasiun-stasiun transit, juga daerah sekitarnya. Termasuk kawasan Pondok Indah dan koridor arterinya (jalan Metro Pondok Indah dan Sultan Iskandar Muda) yang berpangkal di perempatan Lebak Bulus hingga Permata Hijau. Koridor ini memang tidak dilalui MRT, tapi seperti diketahui, saat ini bisa diibaratkan sudah menjadi “jalan utama” mereka yang berada di selatan dan barat daya Jakarta untuk mencapai pusat kota.

Bagaimana perkembangan ke depan jika jalur MRT itu sudah beroperasi memang belum bisa diprediksi oleh para broker yang berkiprah di sini. “Tentunya, semua perkembangan kota dengan berbagai bentuknya akan memberikan kontribusi positif. Apalagi itu infrastruktur yang selalu memberikan keuntungan,” imbuh Faulin Irmawan, marketing senior dari kantor broker Coldwell Banker Radiant Pondok Indah.

Digambarkan Faulin,selepas pembangunan ruas tol Pondok Pinang-Taman Mini pada awal 1990, terbukti memberikan efek positif bagi perkembangan harga properti di koridor tersebut. Tak hanya tumbuh properti-properti baru, kenaikan harga tanahnya pun mengekor permintaan yang menanjak. Walhasil harga rumah-rumah di kawasan elit yang dikembangkan awal tahun 1980-an oleh PT Metropolitan Kentjana itu tak kunjung surut. Apalagi kini ruas JORR tersebut telah terkoneksi dengan wilayah Bekasi, Jawa Barat dan Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Bangunan ruko bisa dibilang masih yang terbanyak mengisi koridor ini. Tak hanya itu, dua superblok juga sudah berdiri gagah di sini. Pertama adalah area komersial Pondok Indah yang dikembangkan Metropolitan Kentjana yang terdiri atas mal, gedung kantor, area rekreasi, menyusul hotel dan apartemen. Area ini akan menempati lahan selapang 40 Ha dan diberi nama Pondok Indah Town Center.

Di sisi lebih utara ada Gandaria City yang baru rampung tahun lalu yang dikembangkan oleh Pakuwon Group. Mixed use project ini merangkum mal, apartemen dan kantor. Dua gedung kantor tersebut, Wisma Pondok Indah yang saat ini sudah masuk seri ketiga dan dibanderol dengan tarif sewa Rp150 ribu /m2/bulan dan Gandaria 8 bagian dari Gandaria City, bahkan terserap sangat baik. Serupa adalah pengisian Pondok Indah Mal 1 dan 2, juga mal Gandaria City.

Berharap mendapat “limpahan” permintaan, Intiland Development juga sedang gencar menyelesaikan pembangunan 1 Park Residence. Memang tidak tepat di tepi koridor tersebut, tetapi lokasinya yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Gandaria City, dipastikan menerima dampak pertumbuhan koridor tersebut. Pembangunan apartemen-apartemen ini menggenapi hunian jangkung lain yang sudah lebih dulu mengisi kawasan Pondok Indah.

Dua pengembangan besar itu jelas menjadi magnet bagi pengembangan-pengembangan lain. Sayangnya, sudah sulit mencari lahan kosong di seputaran koridor ini. Tidak heran, jika harga tanahnya terus terdongkrak. Harga tertinggi masih ditempati oleh area Golf Pondok Indah yang sudah mencapai Rp20 juta/m2. Daerah di seputarannya, seperti Metro Alam dan Metro Kencana cukuplah di posisi Rp15 juta/m2. Sementara itu di jalan Sultan Iskandar Muda berkisar Rp7 juta – 12 juta/m2.

Faulin menjelaskan lagi, kalau permintaan ruko masih sangat tinggi, sementara pasokan sangat kurang. Tidak heran, jika saat ini pasar ditentukan oleh landlord yang bahkan menawarkan dengan harga yang tak masuk akal.  Ada yang menawarkan 2 unit ruko seken dengan luas total 200m2 seharga Rp9 miliar.

Terus diincarnya kawasan ini membuat Margahayuland pun terpincut untuk ikut bermain di sini. Dengan lahan seluas 1,1 Ha, berlokasi sekitar 200 meter dari Pondok Indal Mal, pengembang asal Bandung ini akan membangun apartemen kelas menengah-atas. Dengan harga Rp15 juta – 20 juta/m2, menurut Hari Raharta, Direktur Utama Margahayuland, apartemen ini masih dalam proses pematangan konsep.

Tampak, meski pasar menggiurkan, Margahayuland tak mau ceroboh dalam mengembangkan produk barunya itu. Maklum meski sudah sesak, pasar rumah tapak masih tetap tinggi di sini. Tidak saja di lokasi-lokasi prima, seperti yang disebut di atas, pun di area yang lebih dalam, seperti di Jalan Pinang Emas, Alam Segar dan Elok Asri. Bahkan dengan ukuran tanah kecil, di bawah 200 m2 pun tak masalah, apalagi kalau bukan soal mengejar gengsi bertempat tinggal di sini.

mpi-update.com