Masihkah REI Bermanfaat untuk Indonesia?

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – “Asosiasi pengembang Real Estat Indonesia (REI) harus direvitalisasi”. Nada keras ini disuarakan oleh Komisaris PT Hanson Land International Tbk, Tanto Kurniawan, kepada Kompas.com, Jumat (20/3/2015).

Tanto yang malang melintang di bisnis dan industri properti selama puluhan tahun, serta pernah berkecimpung dalam organisasi yang sudah berusia nyaris setengah abad, 43 tahun, itu tahu betul apa yang disuarakannya.

Menurut dia, banyak hal-hal di luar idealisme seperti aspek komersial dan ambisi politik yang mencederai perjalanan organisasi yang Sabtu malam (21/3/2015) merayakan hari jadinya di Pontianak, Kalimantan Barat. 

“Oleh karena itu, REI penting direvitalisasi. Ini untuk menekankan kembali tujuan asosiasi pada saat didirikan. Jangan sampai cita-cita luhur para pendirinya luntur untuk kemudian padam,” tegas Tanto.

Hal senada dikemukakan praktisi pembangunan kawasan Hiramsyah Sambudhy Thaib. Menurut dia, peran REI harus lebih ditingkatkan dalam upaya menjadi mitra kerja strategis pemerintah untuk menyediakan papan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Selama 2010-2014 REI dan teman-teman pengembang terlalu fokus pada bisnis setelah sepuluh tahun tidak mengalami ledakan properti. Untuk itu, saat ini hendaknya secara bersama-sama mulai kembali memperhatikan penyediaan rumah untuk rakyat,” papar Hiramsyah.

REI juga diminta untuk membuat program jangka pendek, menengah dan panjang agar bisa mencapai tujuan sebagai mitra strategis dan juga bermanfaat untuk Indonesia. Setelah itu, membentuk organisasi pengurus yang kompeten dengan didampingi ahli-ahli dari berbagai disiplin yang dibutuhkan.

“Setiap program harus dibuat secara transparan dan kemudian menjadi bahan untuk dikaji oleh pemerintah. Pemimpin organisasi harus didampingi personil berintegritas dan mumpuni yang bisa saja bukan anggota. Meskipun REI dibentuk oleh para pengembang,” tutur Tanto.

Pasalnya, tambah Tanto, pemimpin negeri bisa berganti-ganti. Demikian pula Ketua Umum REI, tapi peranan itu harus berkesinambungan dan mengalami pertumbuhan. REI seyogyanya menjadi mitra penting bagi pemerintah mengingat asosiasi ini tidak memiliki keterbatasan birokrasi dan koneksi internasional.

Presiden Direktur PT Ciputra Surya Tbk, Harun Hajadi menimpali, kendati misi dan visi REI sudah jelas, namun memang sangat tergantung pada kepengurusannya. 

“Pengurus yang sekarang menurut saya bagus, aktif berkoordinasi dengan pengembang maupun pemerintah mengenai masalah-masalah kekinian bisnis dan industri properti di Indonesia,” imbuh Harun.

Manfaat

Menurut Harun, karena REI merupakan organisasi resmi yang merepresentasikan kepentingan pengembang, baik besar maupun kecil, harus memberi lebih banyak manfaat.

“Selain itu, REI juga menjadi wadah bagi pengembang untuk memberikan input kepada pemerintah agar kebijakan-kebijakan mengenai properti dapat menguntungkan seluruh stakeholders, seperti pemerintah, konsumen, dan pengembang,” ucap Harun.

Sementara menurut Tanto, manfaat baru bisa dinikmati pengembang, adalah jika asosiasi ini benar-benar diakui sebagai mitra pemerintah yang disegani dan didengar pendapatnya serta menjadi asosiasi yang memberikan pedoman bagi jalannya pembangunan.

“Manfaat buat masyarakat adalah pada saat program sejuta rumah dari pemerintah dapat dilaksanakan bahu membahu antara pemerintah dan swasta dengan aturan-aturan yang jelas dan terjangkau oleh mereka,” tandas Tanto.

 

 

properti.kompas.com