Sektor Properti Diprediksi Membaik Pada Tahun Ini

Big Banner

(Berita Daerah – Nasional) CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengungkapkan bahwa pada tahun 2015 ini menjadi tonggak kebangkita properti di Indonesia. Keyakinan itu didukung oleh beberapa faktor yaitu diantaranya inflasi, BI rate dan bunga KPR yang kemudian diikuti dengan peningkatan daya beli masyarakat.

Ali menyampaikan hal tersebut dalam acara Seminar Indonesian Property Outlook 2015 yang mengusung tema “Investasi Properti Sebagai Pilihan Bijak” yang diselenggarakan oleh Paramaount Land di Makassar, Sabtu (21/3).

Dalam kesempatan itu Ali mengatakan jika kebijakan pemerintah yang menurunkan BI rate dari 7,75 persen ke level 7,5 persen beberapa waktu lalu disambut baik oleh pasar. Penurunan BI rate diakui meningkatkan daya beli masyarakat terutama konsumen yang akan membeli rumah. Selain itu, cadangan dana pemerintah dari pengalihan subsidi BBM untuk menggenjot infrastruktur memberikan keuntungan bagi pembangun properti.

Sementara itu terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, diprediksi tidak akan berlangsung lama sehingga ekspektasi bagi para pengembang akan semakin membaik. Untuk itu pengembang properti harus pandai untuk mengatur strategi dalam membangun properti dan pada saat memasarkannya.

Pada saat ini industri properti menengah atas mulai jenuh dan bergeser ke segmen menengah yang sebagian besar pemakai akhir, oleh karena itu pengembangpun mulai membidik pasar tersebut dengan melakukan strategi mengubah ukuran dan menjual rumah dengan tipe-tipe yang lebih kecil.

Rumah dengan tipe yang lebih kecil itu nantinya dijual dengan harga antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar dan diprediksi akan menjadi primadona pasar properti. Hal ini seiring dengan pertumbuhan kalangan menengah di Indonesia yang cukup besar dan berkeinginan untuk memiliki tempat tinggal yang layak.

Di sisi lain, saat ini ada beberapa lokasi yang menunjukkan pertumbuhan dan penyimpan potensi pasar yang tinggi diantaranya di kawasan timur Indonesia seperti Surabaya, Makassar dan Manado. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa optimistis sektor properti akan berjalan positif tahun ini, khususnya untuk rumah tapak (residensial).

Pemerintah perlu membuat pemetaan terhadap kebutuhan perumahan karena setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pemetaan terhadap pembangunan perumahan dibutuhkan agar nantinya dapat melakukan pembangunan yang berkelanjutan sehingga bisa mengurangi backlog perumahan. Hal ini dikarenakan pada saat ini pemerintah belum memiliki pemetaan mengenai kebutuhan rumah di masing-masing wilayah.

Akbar Buwono/Regional Analyst at Vibiz Research/VM/BD
Editor : Eni Ariyanti
image: ant

mpi-update.com