Kendala Bisnis Penjualan Rumah Di Amerika

Big Banner

Seperti telah dilaporkan sebelumnya bahwa mengawali perdagangan properti di Amerika Serikat (AS) tahun 2015, bisnis penjualan rumah merosot dibulan Januari  lebih dari yang diperkirakan bahkan merupakan bisnis yang terburuk selama 9 bulan terakhir. Menurunnya bisnis ini disebabkan naiknya harga rumah dan kurangnya daftar rumah yang baru. Ternyata tren kenaikan harga dan langkanya pasokan perumahan masih berlanjut hingga Februari lalu.

Penjualan rumah di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS) berhasil mencatat rebound tipis pada bulan Februari lalu. Rebound  ini terjadi ditengah kelangkaan sektor properti akibat faktor cuaca sehingga menyebabkan lonjakan harga yang terbesar dalam kurun satu tahun terakhir. The National Association of Realtors, pada hari Senin (23/3/2015) melaporkan bahwa angka penjualan rumah yang sudah tersedia di AS berhasil naik 1,2 persen (yoy) yaitu sebesar 4.880.000 unit. 

Pasokan ketersediaan rumah yang tidak mencukupi tampaknya cukup menghambat calon pembeli di beberapa negara bagian. Sebelumnya para ekonom telah memperkirakan penjualan rumah dapat kembali naik di bulan Februari lalu menjadi sebanyak 4.900.000 unit. Ternyata realisasinya adalah angka penjualan rumah yang tersedia ini sedikit lebih rendah dari angka prediksi. Tren angka penjualan rumah di AS dalam kurun 5 (lima) tahun terakhir dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Historical Data Chart

Dapat dilihat bahwa tren penjualan rumah di negara ini cukup membaik belakangan ini, pergerakannya pun cukup fluktuatif. Hal ini menandakan bahwa masih terjadi aktivitas ekonomi yang cukup baik di sektor properti.

Penjualan rumah yang cukup lambat pada bulan Februari lalu belum cukup kuat untuk menandakan bahwa aktivitas ekonomi di negara ini juga melambat tajam pada kuartal pertama tahun ini, sehingga belum dapat dipastikan apakah The Federal Reserve AS jadi akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni mendatang atau tidak. Seperti diketahui akibat ketidakpastian tersebut, nilai tukar Dolar terhadap major currencies lain cukup melemah.

Seperti diketahui dengan terbatasnya ketersediaan di sektor properti maka harga rata-rata untuk rumah yang sebelumnya sudah pernah dimiliki adalah sebesar $ 202.600 pada bulan Februari lalu, naik 7,5 persen dari tahun lalu. Persentase kenaikan ini adalah yang terbesar sejak Februari tahun lalu. Namun harga yang lebih tinggi kali ini cukup menguntungkan para penjual. Faktor cuaca menjadi kontributor utama langkanya sektor properti di negara ini, misalnya saja penjualan rumah di wilayah di timur laut, tercatat jatuh 6,5 persen di bulan lalu. 

Indeks perumahan AS naik 0,33 persen, sejalan dengan menguatnya saham-saham di bursa wall street, dimana saham homebuilder terbesar seperti DR Horton naik 0,25 persen, Lennar Corp naik 0,83 persen, dan Pulte Group menguat 0,45 persen.

 

Stephanie Rebecca / Equity Analyst at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens

vibiznews.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me