Kalbar Membuka Peluang Investasi Properti

Big Banner

Pontianak – Peluang investasi properti di Kalimantan Barat (Kalbar) masih terbuka lebar. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar mengajak para anggota Real Estat Indonesia (REI) untuk menggarap peluang tersebut.

“Saya bercita-cita membangun kota yang modern, kota yang layak ditinggali manusia dengan lingkungan yang aman dan nyaman, seperti BSD (Tangerang, Banten),” ujar Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Cornelis dalam sambutannya di acara HUT REI ke-43, di Pontianak, Jumat (20/3) malam.

Di Kalbar, kata dia, ada dua kota besar, yakni Pontianak dan Singkawang. Jumlah penduduk Kalbar sekitar lima juta jiwa dengan luas satu setengah kali Pulau Jawa. “Masih banyak penduduk yang belum punya rumah layak huni. Karena itu, REI bisa menggandeng perusahaan sawit dan BTN untuk membangun rumah di Kalbar,” ujarnya.

Cornelis menambahkan, di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini, anggota REI harus mampu bersaing. Dia juga mengatakan, saat ini ada sejumlah pengusaha Kuching, Malaysia yang tertarik menggarap bisnis perumahan di Kalbar. “REI harus mampu bersaing, kalau perlu mampu menggarap bisnis di Malaysia, Singapura, hingga Dubai,” katanya.

Sementara itu, Eddy Hussy, ketua umum Real Estat Indonesia (REI) mengaku pihaknya sudah melihat peluang investasi baru di Kallbar. Dalam rangka HUT kali ini juga, katanya, REI mendekatkan diri dengan para pemangku kepentingan di Kalbar. Tentu saja, kata dia, termasuk mendekatkan diri kepada masyarakat.

“Kami yakin pemda akan membantu demi mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.

Namun, bagi Sukiryanto, ketua DPD REI Kalbar potensi yang ada mesti ditopang dukungan perbankan, khususnya BTN. Potensi pasar yang cukup besar saat ini adalah segmen masyarakat menengah bawah. Rumah berskema FLLP menjadi segmen yang terbesar saat ini.

“Tapi perlu dukungan perbankan terutama bagi sektor informal yang dianggap non bankable,” kata dia.

Menurut dia, persoalan yang dihadapi masyarakat adalah persoalan uang muka dan biaya administrasi. Dia mencontohkan, saat ini untuk kedua unsur itu masyarakat mesti merogoh kocek sekitar Rp 17 juta. “Mereka sanggup mencicil, tapi uang muka tidak ada. Kami berharap masalah ini dibantu oleh perbankan,” katanya.

Investor Daily

Penulis: Edo Rusyanto/FER

Sumber:Investor Daily

beritasatu.com