Investor Asing Minati Sektor Perumahan di Kawasan Indonesia Timur

Big Banner

Jakarta – Ketua Komite Koordinator Perekonomian Kadin Indonesia Wilayah Timur, Nasruddin Tueke mengatakan, saat ini sejumlah investor asing dari Belanda, Tiongkok, dan Australia berminat menggelontorkan dana besar untuk investasi di Indonesia bagian timur. Sektor yang diminati termasuk pembangunan perumahan.

“Perumahan merupakan salah satu sektor yang diminati investor selain energi, pertambangan, pertanian, perkebunan, dan perikanan,” kata dia seusai pertemuan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Timur, di Jakarta, baru-baru ini.

Indonesia bagian timur, tutur Nasruddin, mencakup 12 provinsi mencakup Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Selain itu, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Di wilayah ini terdapat 171 kota/kabupaten. Masing-masing kota/kabupaten memiliki kebutuhan hunian 2,000 unit.

Menurut dia, pihaknya siap turut serta dalam program pemerintah membangun satu juta rumah program dari pemerintah pusat. “Sekarang tinggal koordinasikan dengan kita, dan bisa dibagi berapa jumlah yang menjadi tanggung jawab kita,” jelasnya.

Selain itu, katanya, Kadin juga meminta pemerintah menyiapkan infrastruktur di Indonesia bagian timur agar memiliki basis ekonomi dan memiliki nilai kompetitif yang baik. Dalam tiga bulan, lanjut Nasruddin, pihaknya sudah mengadakan evaluasi dan menyusun desain program percepatan pembangunan.

“Konsep tata ruang dan penggunaan lahan yang jelas, sangat penting untuk membantu pengembangan kawasan ini,” paparnya.

Ketua Bidang Investasi, Perbankan, Keuangan, dan Pengembangan Usaha Kadin Indonesia Wilayah Timur, Reza V Maspaitella menambahkan, masalah perumahan di kawasan timur Indonesia memiliki dua dua hal. Pertama, masih adanya daerah-daerah kumuh di tiap kota/kabupaten dan kedua, ketersediaan sejumlah rumah masih belum mencapai taraf yang layak.

“Selain pengembangan kawasan hunian baru, penanganan terhadap dua masalah tersebut juga menjadi penting,” tuturnya.

Di wilayah timur Indonesia, lanjut Reza, adat istiadat masih sangat kuat dengan banyaknya sistem kerajaan dan kesukuan yang dianut. Asosiasi ingin membangun kemitraan dengan masyarakat setempat perihal penggunaan lahan lokal, sehingga tidak terjadi problematika dalam investasi.

“Kerjasama ini tentunya meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena melibatkan perusahaan daerah dan usaha kecil menengah,” kata dia.

Penulis: Imam Mudzakir/FER

beritasatu.com