Intiland Garap Proyek Rp 12 Triliun

Big Banner

Jakarta – PT Intiland Development Tbk menggarap proyek properti senilai Rp 12 triliun sepanjang 2015-2017. Nilai itu berasal dari proyek hunian, perkantoran hingga pergudangan terintegrasi di Jakarta dan sekitarnya.

Bisnis properti di Indonesia masih cukup menjanjikan untuk beberapa tahun ke depan. Permintaan masih tinggi dari segmen residensial, perkantoran, hingga properti komersial.

Di sisi lain, konsultan properti Colliers International Indonesia menyebutkan, net asset value (NAV) PT Intiland Development Tbk per 30 September 2014 menyentuh Rp 26,1 triliun. Sedangkan nilai efektifnya sekitar Rp 19,1 triliun.

Demikian rangkuman komentar Executive Director Capital & Invesment PT Intiland Development Tbk Archied Noto Pradono, Valuation Services Colliers International Indonesia Indrotjahjono, dan Director of Research Savills PCI Anton Sitorus yang dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, baru-baru ini dan Selasa (24/2).

“Salah satu proyek yang akan kami garap adalah South Quarter (SQ) tahap dua di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan,” ujar Archied Noto Pradono. “

SQ tahap pertama kini memasuki fase akhir. Dalam tahap pertama, proyek perkantoran ini terdiri atas tiga menara dengan total kapasitas 120 ribu meter persegi (m2). Dari jumlah tersebut sebanyak 40 ribu m2 dijual dengan skema hak milik (strata title), sedangkan sebanyak 80 ribu m2 disewakan. “Hingga kini sudah diatas 80 persen yang terjual,” kata dia.

Menurut Anton Sitorus, bisnis ruang perkantoran di kawasan TB Simatupang masih cukup prospektif hingga beberapa tahun ke depan. Permintaan ruang perkantoran datang dari berbagai perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Permintaan tersebut cukup tinggi terutama dari perusahaan nonkeuangan.

“Mereka tak harus berkantor di kawasan CBD Jakarta karena sewanya mahal. Belum lagi menghadapi kemacetan lalu lintas jalan dan masalah three in one,” paparnya.

Dia melihat apa yang dilakukan pengembang properti termasuk kiprah Intiland Development, sebagai antisipasi adanya permintaan di luar CBD Jakarta. Pergeseran ruang perkantoran dari CBD Jakarta ke wilayah bisnis baru seperti TB Simatupang, sudah terasa sejak lima tahun lalu. “Relocation demand ke TB Simatupang cukup tinggi,” tuturnya.

Lokasi TB Simatupang cukup strategis. Bagi para ekspatriat, tambah dia, amat cocok karena dekat dengan kawasan Pondok Indah dan Kemang, Jakarta Selatan. Di sisi lain, kawasan TB Simatupang juga amat dekat dengan sekolah-sekolah internasional sehingga membantu ekspatriat yang memiliki keluarga.

“Sehingga mereka tidak perlu berjibaku ke tengah kota. Inilah salah satu alasan kenapa mereka memilih berkantor di daerah Simatupang,” tukasnya.

Sementara itu, Indrotjahjono mengatakan, prospek perkantoran di Simatupang masih prospektif hingga dua atau tiga tahun mendatang. Permintaan ruang perkantoran kian bergeser keluar CBD Jakarta. “Permintaan masih bagus hingga 2017. Simatupang bakal menjadi pusat bisnis baru Jakarta,” katanya.

Archied mengatakan, nilai proyek SQ mencapai Rp 3,9 triliun. Proyek perkantoran tahap pertama diserah terimakan secara bertahap pada April 2015. Untuk tahap kedua yang menempati areal 2,7 ha bakal dibangun mulai 2016. “Desain untuk perkantoran dan apartemennya sudah ada,” kata dia.

Selain Intiland, pengembangan ruang perkantoran di TB Simatupang juga dilakukan sejumlah pengembang lain. Konsultan properti Colliers International Indonesia pernah menyebutkan bahwa kawasan Simatupang diguyur 11 proyek perkantoran senilai Rp 12,3 triliun sepanjang 2014-2017.

Tingginya pasokan dan permintaan ruang perkantoran di merupakan salah satu indikasi bahwa ekspektasi investor terhadap Indonesia kian membaik. Khusus di Simatupang, permintaan ruang perkantoran di kawasan tersebut dinilai masih cukup tinggi seiring makin mahalnya harga ruang perkantoran di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) Jakarta.

Hunian dan Gudang

Intiland Development berancang-ancang menggarap dua proyek hunian vertikal prestisius di Jakarta. Proyek pertama merupakan lanjutan sebelumnya, yakni 1 Park Avenue di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Proyek sebelumnya bertajuk 1 Park Residences.

“Di proyek 1 Park Avenue kami bakal membangun empat menara apartemen yang kami targetkan rampung pada akhir 2016,” papar Archied Noto Pradono.

Proyek ini bakal menawarkan 488 unit apartemen dan 31 town house. Nilai proyek hunian vertikal ini mencapai sekitar Rp 3 triliun. “Untuk town house kami luncurkan pada akhir tahun ini,” ujar dia.

Proyek hunian vertikal lainnya yang sedang digarap Intiland adalah Regatta tahap kedua. Proyek apartemen di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara ini ditargetkan rampung pada akhir 2017. “Selain apartemen, kami juga akan melengkapinya dengan satu hotel bintang lima yang konstruksinya akan dimulai pada 2018,” katanya.

Menurut dia, selain hunian vertikal, proyek lain yang sedang dikerjakan adalah hunian tapak dan pergudangan terintegrasi di Tangerang, Banten. Proyek bertajuk Aeropolis ini sudah menjual sekitar 4,200 unit hunian. Aeropolis juga menawarkan properti apartemen dengan ukuran lebih kecil yakni berkisar 20-30 meter persegi.

“Total nilai proyek ini sekitar Rp 3 triliun yang mencakup pergudangan sekitar Rp 2 triliun dan hunian Rp 1 triliun,” jelas Archied Noto Pradono.

Bagi Indrojathjono, lewat sejumlah proyek yang sedang dikembangkan tersebut nilai aset Intiland bisa terus berkembang. Bila pada 30 September 2014 sekitar Rp 26,1 triliun asset value-nya, pada akhir 2014 bakal bertambah sekitar 5 persen.

Investor Daily

Penulis: EDO/FER

Sumber:Investor Daily

beritasatu.com