Investasi Hotel di Bandung Saat Ini Tidak Tepat

Big Banner

BANDUNG, KOMPAS.com – Berinvestasi di sektor properti komersial terutama hotel di wilayah Kota Bandung saat ini dinilai tidak tepat. Pasalnya, pasar sedang berada dalam titik jenuh. Pasokan melebihi permintaan.

“Keputusan untuk berinvestasi di sektor komersial Bandung saat ini merupakan tindakan bodoh. Investornya tidak punya perhitungan secara matang kalau melakukan investasi saat ini di Kota Bandung,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Herman Muchtar kepada Kompad.com, di Bandung, Jawa Barat, Senin (23/3/2015).

Keputusan berinvestasi tersebut dianggap tak tepat karena perkembangan hotel yang terlalu pesat akibat tak ada pembatasan. Selain itu, harga material bangunan untuk hotel juga sedang tinggi.

“Namun yang terutama pasar perhotelan saat ini sudah jenuh. Tingkat rata-rata okupansi hotel di Kota Bandung menurun 30 persen sampai 35 persen pada dua bulan pertama tahun 2015. Kalau dilihat juga harga bahan baku pembangunan properti kan sedang tinggi karena adanya pelemahan Rupiah,” tambah Herman.

Jangan Ikuti Tren

Pakar Tata Kota Bandung, Udjianto Pawitro menambahkan, investor seharusnya tidak terlalu mengikuti tren yang sedang berkembang. Investor perlu menggandeng pakar yang mampu memprediksi bagaimana tingkat kejenuhan suatu tren di kota incarannya.

“Investor ini jangan terlalu mengikuti tren yang sedang berkembang. Jangan kalau anginnya ke utara, dia ikut ke utara. Coba investor menggandeng pakar yang bisa memprediksi sektor mana yang cocok untuk investasi. Sehingga nantinya tidak terjadi tren pembangunan yang percuma,” ujar Udjianto.

Udjianto menuturkan, perencanaan kota yang baik mampu mengklasifikasikan segmentasi properti yang tepat dalam suatu distrik. Hal itu dapat meminimalisasi matinya salah satu bisnis yang tidak dapat bersaing.

“Suatu kota dengan perencanaan yang baik itu bisa mengklasifikasikan segmentasi properti yang cocok. Jangan buat properti dengan segmentasi yang sama di lokasi berdekatan. Itu kan akan mematikan bisnis salah satu properti tersebut,” tandas Udjianto.

Selain itu, Udjianto juga menjelaskan seharusnya pemerintah di bidang perencanaan kota mampu memberikan informasi kepada masyarakat dan investor bahwa iklim perhotelan ini sudah semakin jenuh. Sehingga ada pengalihan investasi ke sektor-sektor lain yang lebih membutuhkan.

“Ada baiknya para investor dipandu ke dalam sektor-sektor infrastruktur penunjang pelayanan publik yang masih kurang mendapatkan perhatian, seperti rumah sakit, sekolah, dan sarana transportasi. Jangan melulu bergerak di sektor komersial,” tambah Udjianto. (Dimas Jarot Bayu)

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me