Ridwan Kamil Bantah Bandung Technopolis Proyek Pencitraan

Big Banner

BANDUNG, KOMPAS.com — Wali Kota Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil membantah anggapan bahwa Bandung Technopolis merupakan proyek pencitraan. Menurut Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, ide pembentukan Bandung Technopolis ini sudah ada sejak 10 tahun yang lalu dengan nama Kawasan Pertumbuhan Primer Gedebage.

 
Ide Pusat Pertumbuhan Primer Gedebage ini sudah 10 tahun terbengkalai. Bahkan, oleh para pengembang cenderung hanya akan jadi perumahan. Oleh karena itu, sejak saya jadi wali kota, kawasan ini dikonsep ulang agar jadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pusat kota kedua Bandung,” tulis Emil dalam akun Twitter-nya, @ridwankamil, Rabu (25/3/2015).

Bantahan Emil ini terkait artikel Kompas.com, yang tayang pada Rabu pagi (25/3/2015) pukul 07.15 WIB, dengan judul “Bandung Technopolis, Summarecon, dan Proyek Pencitraan”. 

 
Lebih jauh, Emil menjelaskan, proyek Bandung Technopolis akan menciptakan visi Kota Bandung sebagai kota ekonomi kreatif berbasis inovasi. Selain itu, proyek ini akan menjadi hadiah bagi Indonesia yang sebelumnya tak memiliki kota berbasis inovasi. Ia pun membandingkan Bandung dan Jakarta. Jika Bandung hadir sebagai kota usaha mikro kecil menengah (UMKM), berbeda dengan Jakarta yang telah menjadi kota korporasi.

Dengan Bandung Technopolis ini, growth ekonomi Kota Bandung yang jadi salah satu yang terbaik di negeri ini sebesar 9 persen bisa naik double digit. Ujungnya untuk kemakmuran warga. Jika Bandung Technopolis masih juga disebut proyek pencitraan, ya silakan saja. Kita tunggu saja saat logika ekonomi ini mulai bergerak,” lanjut Emil.
 
Emil menuturkan, pemilihan konsep berbasis information and communication technology (ICT) economy disebabkan banyaknya sumber daya manusia (SDM) yang siap pada sektor tersebut.
 
Dipilihlah pusat pertumbuhan dengan konsep ICT economy karena SDM di Bandung sangat siap. Bandung Technopolis sudah dihitung bisa hasilkan 400.000 lapangan kerja,” tambah Emil.

 
Emil juga mengungkapkan, peningkatan ekonomi tersebut diciptakan lewat berbagai infrastruktur yang akan dibangun di area megaproyek tersebut.
 
Di Bandung Technopolis akan ada pusat riset, zona startup, kantor-kantor inovasi melengkapi standar kota mandiri, hunian, kantor komersial, dan lainnya. Aspek lingkungan hidup juga direncanakan dengan baik. Akan ada dua danau besar masing-masing 30 hektar untuk atasi banjir juga jadi sumber air minum Bandung Timur,” kata Emil.

Untuk mendukung pusat pertumbuhan tersebut, tambah Emil, infrastruktur transportasi akan ditambahkan di Gedebage. Selain itu, pusat Pemerintahan Kota (Pemkot) Bandung juga akan dipindahkan ke wilayah ini.
 
Akses baru untuk Bandung Technopolis di pintu tol exit 149 juga akan mulai konstruksinya tahun ini sehingga akses ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) jadi lebih mudah. Rencana transportasi publik, seperti monorail, guides bus, di Bandung Technopolis akan terkoneksi dengan Bandung lama,” imbuh Emil.

Tak hanya itu, terdapat juga rencana pemerintah pusat membuat hi-speed train Jakarta- Bandung dengan jarak tempuh 30 menit, stasiun terakhirnya akan ada di Bandung Technopolis. Untuk mendukung pusat pertumbuhan baru ini, kantor-kantor Pemkot Bandung akan pindah ke Bandung Technopolis, seperti halnya Putera Jaya, Malaysia, ke Cyber Jaya.

 
Bandung Technopolis ini, kata Emil, tidak hanya digarap oleh PT Summarecon Agung Tbk, melainkan juga oleh banyak pihak, seperti Pemkot Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kepolisian Daerah Jawa Barat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Pertamina, PT Multidaya Kharisma, PT Batununggal Indah, dan Provident Development. 
 
Di Bandung Technopolis, Summarecon adalah 1 dari 8 stakeholder. Hanya saja memiliki kawasan paling besar sehingga porsi zona teknopolis juga paling besar,” sebut Emil.

Gagap

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP), Bernardus Djonoputro, yang dianggap Emil telah menyudutkan dirinya dengan pernyataan Bandung Technopolis sebagai proyek pencitraan, tak membantah balik.

Sebaliknya, kultwit panjang lebar Emil dinilai Bernardus benar. “Beliau betul. Namun, tantangannya adalah bagaimana menyinkronkan rencana yang demikian baik, dengan kemampuan birokrasi, manajemen pengembangan kawasan, dan pendanaan di jajaran Pemkot Bandung,” papar Bernardus.

Dia menjelaskan, sinkronisasi penting karena selama ini terlihat bahwa jajaran di bawah wali kota tergagap-gagap dalam menyambut ide cemerlang Emil.

“Menurut saya, wali kota mempunyai tugas berat internal untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan anak buahnya supaya sama pemikiran dan aksinya,” kata Bernardus. (Dimas Jarot Bayu)

properti.kompas.com