Mengoptimalkan RTH di Koridor Barat Jakarta

Big Banner

Koridor barat Jakarta semakin menggeliat. Bukan hanya pengembangan kota mandiri, geliat itu juga ditandai oleh pembukaan ruang terbuka hijau (RTH) di sentra-sentra properti.

Salah satu indikasi kepesatan koridor barat adalah semakin berkembangnya kawasan Serpong, Tangerang, Banten. Kawasan ini, bahkan telah menjadi agenda wajib dalam ekspansi bisnis pengembang.

Dari sisi infrastruktur, Serpong memiliki semuanya. Kawasan ini terhubung oleh jalan tol Jakarta Outer Ring road (JORR) yang sudah terkoneksi dengan tol Bandara, tol BSD, dan percepatan rencana pembagunan tol JORR II serta BSD-Cikupa. Koneksi jalan tol tersebut membuat kawasan ini menjadi magnet baru dalam dunia properti. Di sisi lain, Serpong juga dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Adanya keunggulan itu membuat Serpong berkembang menjadi kawasan gurih bagi pebisnis properti. Selain wilayahnya yang mendukung dan sangat strategis, Serpong juga masih memiliki banyak lahan yang cukup besar untuk bisa dikembangkan sebagai pusat kota mandiri.

Pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyatakan, kawasan Serpong tumbuh sangat cepat, dibandingkan dengan kawasan lainnya di sekitar Jabodetabek. “Pengembang besar sudah banyak hadir di kawasan ini. Potensi ke depan pun masih sangat besar,” kata dia.

Kawasan Serpong sangat cocok untuk hunian atau tempat tinggal. Banyak kelas menengah yang bekerja di Jakarta memilih tempat tinggal di kawasan Serpong. Sasaran pengembang membidik pasar tersebut melalui strategi resizing, dengan menjual tipe-tipe kecil seharga Rp 500 juta- Rp 1 miliar. “Tipe-tipe ini akan menjadi primadona,” kata Ali.

Nuansa Alam

Salah satu pengembang yang bermain di segmen tersebut adala PT PP Properti melalui Apartemen The Ayoma. Proyek senilai Rp 500 miliar ini menawarkan hunian vertikal dua menara, sebanyak 800 unit dengan harga mulai Rp 400 jutaan.

“Kami berharap sekitar 400 unit pada menara pertama dalam waktu enam bulan dapat terjual, dengan target pendapatan kedua menara yang dikembangkan Rp 1 triliun,” kata Project Manager The Ayoma Apartment PT PP Properti Nurjaman.

Sementara itu, Djoni Satria, GM Marcomm The Ayoma Apartment PT PP Properti menambahkan, apartemen yang menelan investasi sebesar Rp 500 miliar ini dikembangkan dengan nuansa alam, unik, kreatif dan prospektif.
“Dengan konsep avant garde, The Ayoma Apartment mempertahankan lingkungan hijau yang sudah terbentuk di area restoran Pecel Madiun. Dari total luasan 1 hektare proyek apartemen ini menyisakan lahan 40 persen untuk pelestarian kearifan lokal berupa lahan terbuka hijau,” kata dia.

Arsitek Lansekap dan Pakar Tata Kota, Nirwono Joga, dalam Obrolan Properti bertajuk ‘Arsitektur dan Kearifan Lokal’ beberapa hari lalu mengatakan, pembangunan properti dari suatu kawasan juga berdampak pada lingkungan, seperti hilangnya kawasan hijau yang sejuk. The Ayoma mempertahankan konservasi lahan hijau guna mempertahankan keaslian suasana Serpong Tempo dulu, dengan banyak pohon langka dan asli di kawasan hunian yang dibangun.

“Mengembangkan lahan tidak identik dengan menggusur. Mengembangkan lahan tidak pula sama dengan meratakan lahan atau membabat habis fungsi lahan yang sudah ada,” tegas Nirwono.

Kearifan Lokal

Pengembang memiliki kewajiban untuk tetap menjaga, melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal. Pengembang dapat menerapkan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam pembangunan huniannya, mulai dari mempertahankan keadaan lingkungan hidup setempat, ekosistem dan habitat alami, serta arsitektur bangunan yang hijau.

“The Ayoma Apartemen dapat menjadi contoh bagi pengembang lain dalam membangun hunian vertikal yang menghargai alam, menjaga keselarasan lingkungan hidup dan mempertahankan kearifan lokal. Pemerintah harusnya mendukung model pembangunan seperti ini dengan memberikan kemudahan perizinan, keringanan PBB, potongan pembayaran listrik dan air bersih, hingga infrastruktur jalan dan jaringan transportasi publik yang terintegrasi bagi penghuni,” ungkap Nirwono.

Pada bagian lain, Nirwono mengatakan, penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) patut diberikan kepada pengembang The Ayoma Apartment atas dedikasi dan kesediaan pengembang mempertahankan lingkungan sealami mungkin. Pengembang berkomitmen menyediakan RTH lebih dari 30% sesuai amanat UU 26/2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 dan 30.

“Sesuatu yang sangat jarang dilakukan para pengembang. Bayangkan jika pengembang menyediakan 30 persen saja lahannya sebagai RTH, maka gedung-gedung akan semakin berkelanjutan,” kata Nirwono.

Penulis: Imam Mudzakir/FER

beritasatu.com