Australia Tekan Investor Tiongkok Jual Aset Properti

Big Banner

KOMPAS.com – Pemerintah Australia mulai menekan jumlah warga asing, terutama asal Tiongkok, yang membeli properti mewah secara ilegal di negeri kangguru tersebut.

Hal itu dibuktikan dengan menuntut CEO Evergrande Real Estate Group, Hui Ka Yan, untuk menjual asetnya di Sydney, dengan harga 30 Juta dollar AS. Hui Ka Yan merupakan salah satu dari 15 orang terkaya Hongkong versi Forbes.

Pemerintah Australia pada Selasa (3/3/2015) memerintahkan entitas perusahaan Evergrande, Golden Fast Foods untuk menjual hunian mewah di depan Sydney Habor bernama Villa del Mare dalam kurun 90 hari.

Golden Fast Foods diketahui telah membeli properti bergaya Mediterania di pinggiran kota eksklusif, Potts Point pada bulan November 2014.

“Penting diketahui bahwa kami memiliki integritas dalam rezim investasi asing di sini. Di mana pun masyarakat percaya bahwa telah terjadi perilaku melanggar hukum dalam kaitannya dengan investasi luar negeri, kami ingin mengetahuinya,” ujar Bendahara Pemerintah Australia, Joe Hockey.

Kasus ini merupakan divestasi yang pertama terjadi di Australia setidaknya dalam tujuh tahun belakangan. Hal ini juga merupakan upaya Pemerintah Australia menihilkan amarah atas melonjaknya harga properti kelas paling atas Sydney yang dipicu investasi asing. Atas kasus ini, Golden Fast Foods dapat dikenai tuntutan oleh Pemerintah Australia.

“Jika properti tersebut dijual dengan keuntungan tinggi, pemiliknya boleh menyimpan keuntungan tersebut. Jika properti tersebut dijual rugi, kedengarannya pemilik akan memiliki kapasitas untuk tetap bisa menyerap banyak keuntungan,” lanjut Hockey.

Hockey menjelaskan bahwa properti lainnya sedang dalam penyelidikan. Beberapa telfon yang ditujukan pada Foreign Investment Review Board (FIRB) terus-menerus masuk pada Rabu (4/3/2015) merespon perintah dijualnya Villa del Mare.

“Sumber daya regulator sedang ditingkatkan untuk mengatasi beban kerja ekstra,” tandas Hockey.

Hockey menuturkan, warga asing diperbolehkan membeli rumah baru di Australia. Namun selain penduduk Australia, tidak diperkenankan bersaing di pasar lokal untuk rumah eksisting. Sayangnya banyak investor kaya yang berasal dari Tiongkok menghindari pembatasan tersebut dengan membelinya lewat pengacara Australia ataupun entitas perusahaan.

Regulator, dalam hal ini FIRB, telah menunjukkan sedikit minat untuk menyelidiki tuduhan tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Namun kenaikan luar biasa harga properti Sydney telah memberikan tekanan politik kepada pemerintah untuk menghapuskan kompetisi.

“Kami tidak sedang berburu penyihir. Kami tak mau menciptakan suasana xenophobia,” pungkas Hockey.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me