Industri Properti Masuki Fase Baru

Big Banner

Industri properti di Indonesia telah mengalami jatuh bangun di masanya. Setelah sempat mengalami fenomena booming pada 2013 hingga pertengahan 2014, di tahun 2015 industri properti memasuki fase perlambatan.

Menurut Pengamat Properti Indonesia Propery Watch (IPW) Ali Tranghanda, perlambatan pasar properti tersebut sudah mulai terlihat sejak memasuki triwulan II-2015. Namun, memasuki 2016, pasar properti diprediksi akan memasuki siklus baru dengan tren kenaikan.

“Terdapat paling tidak lima hal yang dijadikan tanda-tanda siklus properti akan memasuki fase siklus baru dengan tren naik. Pertama, suku bunga acuan BI yang turun dari 7,75 persen menjadi 7,5 persen telah diprediksi sebelumnya dan diperkirakan akan terus mengikuti tren menurun sampai akhir tahun 2015 yang membuat daya beli akan sedikit terdongrak menyusul tren penurunan suku bunga KPR. Kedua, pengembang mulai melakukan strategi yang lebih ‘membumi’ dengan membuat produk-produk yang ‘masuk akal’ menyasar segmen menengah setelah sebelumnya lebih banyak meluncurkan properti mewah,” kata dia, di Jakarta , Jumat (27/3).

Ketiga, fluktuasi Rupiah terhadap dolar berdasarkan analisis IPW merupakan kondisi market shock sesaat dan tidak menggambarkan buruknya fundamental Indonesia.

Keempat, kondisi masuknya arus investasi dari Asia Pasifik khususnya ke industri akan memberikan dampak positif bagi pergerakan sektor riil. Dan yang terakhir adalah program sejuta rumah dari pemerintah dengan beberapa kebijakan yang pro-rakyat seharusnya akan memberikan stimulus bagi percepatan pasar rumah di segmen bawah. (as/okezone)

ciputraentrepreneurship.com