Industri Keramik Pangkas Utilisasi 20 Persen

Big Banner

Jakarta – Industri keramik nasional memangkas tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) hingga 20 persen, seiring tingginya harga gas industri dan melemahnya permintaan domestik. Imbasnya, industri ini diperkirakan menderita potensi kerugian (potensial loss) sekitar Rp 7 triliun.

“Dari target omzet sekitar Rp 36 triliun tahun ini, potensial loss kita mencapai Rp 7 triliun,” kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga di Jakarta, Selasa (31/3).

Potensial loss tersebut, menurut Elisa, sudah mulai terealisasi saat ini. Tercatat, sekitar 90 persen perusahaan keramik sudah menurunkan produksinya. Penurunan itu dilakukan di pabrik-pabrik yang tersebar dari Sumatera Utara hingga Jawa Timur.

Penurunan produksi, lanjut Elisa, terutama terjadi pada keramik jenis ubin (tile). Adapun produksi keramik jenis tableware dan sanitary sedikit menurun.

Elisa mengungkapkan, dengan harga gas yang tinggi, pabrik keramik kesulitan menggenjot produksi. Pasalnya, biaya energi gas menyumbangkan 35 persen dari total biaya produksi. Selain itu, kinerja beberapa industri pengguna, seperti properti tengah menurun, sehingga berdampak pada melemahnya permintaan keramik.

Industri keramik, lanjut dia, juga tidak bisa menggenjot ekspor untuk mengimbangi penurunan permintaan di pasar domestik. “Kita tidak bisa push ekspor karena daya saing kita kalah dibanding negara lain. Bagaimana kita bisa punya daya saing tinggi kalau harga gas kita jauh di atas negara kompetitor?” keluh dia.

Saat ini, kata Elisa, sekitar 12 persen produksi keramik nasional diekspor ke beberapa negara, sedangkan sisanya dipasarkan di dalam negeri. Dia mengatakan, harga gas yang dibayar industri keramik saat ini mencapai US$ 8 per mmbtu, sedangkan di beberapa negara hanya US$ 4-5 per mmbtu. Harga gas paling ideal untuk industri keramik nasional adalah US$ 5 per mmbtu.

Kondisi tersebut, kata Elisa, diperparah dengan kenaikan biaya produksi hingga 20 persen akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Biaya produksi keramik sangat tergantung dolar, karena industri keramik membeli gas dalam dolar,” kata Elisa.

Dia mengatakan, meskipun biaya produksi naik, para pelaku usaha belum berani menaikkan harga jual. Pasalnya, kondisi pasar dalam negeri masih lesu dan.

“Jika harga jual dinaikkan, demand dalam negeri akan berkurang dan bisnis bisa stagnan. Jalan satu-satunya adalah melakukan efisiensi dengan mengurangi produksi,” ujar Elisa.

Dia berharap, kondisi pelemahan rupiah ini hanya bersifat sementara. “Semoga bulan Juni kondisi sudah mulai stabil,” tambah dia.

Selain memutuskan menurunkan produksi, dia menyatakan, beberapa perusahaan terpaksa menutup pabriknya. Dua pabrik yang terpaksa ditutup adalan PT Masterina dan PT Internusa Keramik Alamasri (Essenza).

“Untuk yang Essenza sedang kita atur untuk recovery. Apalagi jika harga gas bisa dapat insentif, kemungkinan bisa jalan lagi. Mungkin 1-2 bulan lagi,” ujar Elisa.

Menurut Elisa, kunci agar bisa berdaya saing adalah, pemerintah memberikan kemudahan bagi industri keramik untuk berbisnis. Menurut dia, pemerintah setidaknya harus mau melakukan tiga hal, yakni menetapkan harga gas yang kompetitif agar industri mampu berdaya saing, penetapan harga gas jual dalam bentuk rupiah, serta membangun infrastruktur pasokan gas.

Investor Daily

Penulis: /FER

Sumber:Investor Daily

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me