Serpong Masih Diminati karena Tidak Banjir

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada fenomena baru yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di Serpong, Tangerang Selatan. Fenomena baru tersebut adalah profil pembeli perumahan yang didominasi konsumen asal Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Konsumen dari Pluit, Kelapa Gading, dan Cengkareng ini menguasai pembelian hunian di Serpong.

Menurut Marketing Golden Park @Serpong, Hanny, mereka meminati Serpong, karena tidak banjir. “Mereka kebanyakan pindah ke Serpong karena Kelapa Gading dan Pluit kan sering banjir dan macet. Mereka cari lokasi yang bebas banjir,” ujar Hanny kepada Kompas.com, saat pameran BTN Expo di FX Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015).

Hanny menjelaskan, Serpong juga memiliki berbagai kelebihan dengan banyaknya fasilitas pendidikan, misalnya Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Sekolah Bisnis Prasetya Mulya.

Perumahan Golden Park @ Serpong sendiri, terdiri dari 250 unit. Berbagai pilihan tipenya yaitu 6×17 meter persegi, 7×17 meter persegi, dan 8×20 meter persegi. Hanny menyebutkan, sebanyak 10 persen diisi oleh para pasangan muda yang mengambil rumah berukuran 6×17 meter persegi dengan kisaran harga Rp 1 miliar.

Sementara para penghuni berusia lanjut, memilih mengambil tipe yang lebih besar dengan kisaran harga di atas Rp 1,5 miliar. Alasannya, mereka ingin memiliki ruang yang luas saat anak dan cucunya berkumpul.

Selain Golden Park, PT Graha Nuansa Hijau juga memasarkan Golden Park 2 yang lokasinya terletak di Cisauk, Tangerang dan berjarak dua kilometer dari Stasiun Cisauk. Dibandingkan dengan Golden Park, perumahan yang diluncurkan pada Desember 2014 ini memiliki pilihan rumah dengan tanah yang lebih kecil. Harganya mulai dari Rp 900 juta-Rp 4 miliar.

Ada pun perumahan lainnya di Serpong, yaitu Serpong Lagoon, yang dikembangkan BSA Land. Perumahan ini banyak diisi oleh penghuni dari Cengkareng dan sekitar Serpong, misalnya Rawa Buntu. Menurut Marketing Serpong Lagoon, Indah, sebanyak 60 persen penghuni perumahan Serpong Lagoon bekerja di Jakarta.

“Mereka tadinya tinggal di Cengkareng, seperti Rawa Buaya, dan bekerja di Jakarta. Mereka memanfaatkan kereta sebagai transportasi ke Jakarta,” kata Indah.

Ia menambahkan, karena Serpong dilintasi commuter line, maka penghuni dari area Cengkareng ini beralih. Apalagi, daerah ini dalam proses pembangunan pelebaran jalan. Hal ini, menambah daya tarik baik bagi penghuni ataupun investor.

BSA Land memasarkan rumah di Serpong Lagoon mulai dari Rp 500 juta hingga Rp 1,3 miliar. Hingga kini, di Serpong Lagoon terdapat 6 klaster.

properti.kompas.com