Karena Chika Property, Investor pun Selalu Repeat Order

Big Banner

Kelapa Gading adalah anomali jika para analis kredit perbankan ketika membuat sebuah analisis kelayakan pembiayaan properti. Jika kawasan rawan banjir lainnya patut dipertimbangkan secara baik, tidaklah demikian dengan Kelapa Gading. Meski rawan banjir namun kenaikan harga properti di kawasan ini tidak pernah bisa dibendung.

Nah, tinggal dan berbisnis properti di kawasan seperti Kelapa Gading adalah sebuah berkat bagi Robert Kaonang dan Ratina Juwono, dua sejawat yang sejak tahun 2000 mendirikan Chika Property. Kedua orang ini tentu memiliki kesamaan visi tentang properti dan kawasan seperti Kelapa Gading, karena di awal 1990-an mereka bersama-sama memasarkan perumahan Taman Modern di Pulogebang dan Kota Modern di Tangerang.

“Tahun 1999 saya dan beberapa orang mendirikan kantor agen, salah satu franchise di Kelapa Gading sini juga, tapi hanya setahun saya di sana. Setahun kemudian saya joint dengan Bu Tina (Ratina Juwono-red), kami buka Chika Property. Jadi sudah sekitar 15 tahunan dan saya sangat menyenangi bisnis ini,” tutur Robert kepada Rumah123.com di kantornya beberapa waktu lalu.

Letak kantor Chika Property cukup strategis, di pinggir Jl. Raya Kelapa Nias QE 1/14. Ini kantor kedua setelah pertama di Jalan Boulevard Timur, Kelapa Gading. Kala itu, Robert dan Tina hanya dibantu 4 hingga 5 orang tenaga marketing. Kala itu, di Kelapa Gading mungkin baru ada sekitar 5 kantor agen properti. “Kalau kantor ini dulunya rumah tinggal saya. Sekarang sudah jadi kantor dan saat ini kami sudah punya sekitar 20-an tenaga marketing, sedangkan kantor agan di Kelapa Gading sudah lebih dari 50-an,” ujar Robert.

Ratina yang akrab disapa Tina menekankan bahwa Chika  Property memang identik dengan Kelapa Gading karena mereka memulainya dari sini dan mereka tidak membuka di tempat lain kecuali di Summarecon Bekasi. “Kita memang lebih fokus di Kelapa Gading khususnya secondary dan juga Bekasi. Tapi kalau primary, kita pegang juga proyek di Serpong dan Cikarang. Boleh dibilang untuk primary, seluruh Jabotabek kita tangani pemasarannya bahkan di Bali pun ada yang kita pegang.”

Kalau banyak agen properti yang paceklik order dari proyek primer, lagi-lagi keduanya bersyukur bahwa Chika Property masih dipercaya oleh developer. Kendati demikian, mereka masih harus melihat dulu siapa developer di balik proyek itu. Baik, background, reputasinya dan apakah proyek yang ditawarkan sesuai dengan segmen pembeli yang menjadi klien Chika Property.

“Karena kita sudah punya klien tetap sehingga kalau proyeknya tidak sesuai dengan segmen klien kita, ya repot. Kalau produk-produk Summarecon, SinarmasLand, Nusa Kirana, ModernLand, Lippo Cikarang, Lippo Karawaci, Alam Sutera, Paramount, Casa Grande dari Pakuwon, itu cocok dengan klien kita. Memang, banyak yang menawarkan kita pegang pemasarannya secara eksklusif tapi kita tidak ambil,” ungkap Tina lagi.

Kepercayaan, baik dari pengembang maupun klien pembeli adalah alasan mengapa tawaran eksklusif ini ditolak. Mereka betul-betul mengukur kekuatan dan kesanggupan, karena tidak ada dalam kamus Chika Property, pekerjaan di-sub kan ke agen lain. “Kita ambil dan kita pasarkan sendiri.”

Pola konsumsi properti tentu saja berbeda dengan pola konsumsi produk otomotif atau lainnya. Di otomotif, orang bisa membeli berulang-ulang. Namun di properti, hanya investor yang memiliki motif dan kemampuan untuk membeli dan menjual berkali-kali. Nah, para klien Chika Property adalah pembeli yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas. Mereka ini pula yang selama ini menyerap produk-produk besutan Summarecon sejak 10 tahun lalu dipegang Chika Property.

“ Kita selalu menjadi The Best Selling, sedangkan untuk Summarecon Bekasi, kita pegang sejak lima tahun lalu dan selama lima tahun berturut-turut kita selalu menjadi The Best. Sementara itu di Jakarta Garden City, tahun 2014 lalu kita menjadi The Best untuk kategori omset, The Best Agent serta The Best Marketing dan ganjarannya kita dapat hadiah mobil,” kisah Tina.

Tina melanjutkan, penjualan terbesar yang pernah mereka catat adalah dari produk milik Summarecon. Sebagai contoh saja, The Kensington adalah produk termahal milik Summarecon. Chika Property sendiri bisa menjual hingga 20% dari total unit, selebihnya 60% dijual oleh inhouse marketing-nya Summarecon dan sisanya 20% lagi dijual oleh para agen lainnya. “Kensington itu kita penjual terbanyak, dan agen berikut yang menjual terbanyak di bawah kita itu perbandingannya 1;7, dia jual 1, kita jual 7 unit. Hadiahnya ke UK, kantor agen lain dapat 1 orang yang berangkat, kita dapat 9 orang yang berangkat,” ungkap Robert.

Apa kunci dari semua konsistensi dan keberhasilan Chika Property ini? Kembali lagi, karena mereka berhasil menjaga kepercayaan dari para klien dan developer. Klien merasa nyaman dengan Chika Property. Kalau orang sudah merasa nyaman, pasti dia akan mencari agen tersebut. “Jadi banyak klien kita yang sudah puluhan tahun, berhubungan baik dengan kita sampai saat ini. Jadi kalau ada produk baru, kita ngak sulit karena pelanggan kita sudah percaya dan kita layani semua kebutuhan mereka,” timpal Tina.

Klien juga nyaman karena marketing Chika Property rata-rata sudah lebih dari 5 tahun bergabung. Nomor 1 yang selalu ditekankan di sini adalah pelayanan dan kejujuran karena Robert dan Tina menyadari bahwa bisnis mereka bergerak di bidang jasa. Jika semua klien yang ditemui, targetnya harus closing atau transaksi, ke depannya akan menyulitkan.

Pernahkah Anda mendengar ada kantor agen yang melayani kliennya hingga after sales service? Di Chika Property, ini menjadi sebuah keharusan dan ini pula yang membuat mereka yang sudah merasakan pelayanan kantor agen ini, akan kembali lagi mencari Chika Property saat hendak mencari properti lagi. Juga sebaliknya, jika ada produk bagus dan ditawarkan kepada mereka, sulit bagi merek untuk menolak. Repeat order di produk properti pun menjadi hal yang lumrah di Chika Property.

Foto: Ferdinand Lamak

 

 

rumah123.com