Perbedaan Kelas Pusat Belanja Hanya Isi Perut dan Gaya Hidup

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada fenomena menarik yang terjadi di sektor properti, khususnya pusat belanja atau mal di daerah. Fenomena tersebut adalah segmentasi pasar yang mengunjungi sekaligus menentukan kelas pusat-pusat belanja tersebut.

Menurut Associate Director Retail Service Colliers International Indonesia, Steve Sudijanto, untuk membedakan kelas pusat belanja bisa dilihat dari traffic atau keramaian di toko-toko makanan, dan non-makanan di pusat belanja tersebut.

“Isi perut, dan gaya hidup adalah dua hal yang berbeda. Namun, keduanya sangat menentukan bagi pengelola pusat belanja untuk menciptakan strategi menarik lebih banyak minat pengunjung. Sehingga target jumlah kunjungan tercapai,” papar Steve kepada Kompas.com, Selasa (7/4/2015).

Steve melanjutkan, jika jumlah pengunjung yang mendatangi supermarket berbelanja kebutuhan sehari-hari, untuk kemudian makan dan minum, lebih banyak ketimbang yang berbelanja kebutuhan gaya hidup, bisa dipastikan kelas pusat belanja tersebut adalah menengah ke bawah.

Sebaliknya, jika jumlah pengunjung yang memilih langsung berbelanja fashion atau kebutuhan gaya hidup, dan hiburan, lebih banyak, dibanding belanja kebutuhan pokok, dapat dipastikan kelasnya adalah menengah ke atas.

“Di daerah sangat kentara fenomena seperti itu. Contohnya Balikpapan, dan Samarinda di Kalimantan Timur. Warga yang berbelanja kebutuhan gaya hidup lebih banyak di mal-mal Balikpapan, sementara pengunjung yang berbelanja untuk isi perut mendominasi pusat belanja di Samarinda,” tutur Steve.

Menurut Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) saat ini terdapat setidaknya 15 pusat belanja yang dibangun di Kalimantan Timur. Jumlah pusat belanja ini terbanyak se-Indonesia. Dua di antaranya akan beroperasi penuh (grand opening)tahun ini, yakni Pentacity Mall di Balikpapan, dan Big Mall di Samarinda.

Demikian halnya di Solo, dan Yogyakarta. Kata Steve, pengunjung yang datang ke pusat-pusat belanja di Yogyakarta adalah mereka yang berbelanja gaya hidup seperti nonton film, potong rambut di salon populer, dan belanja fashion.

“Sementara di Solo, sejauh ini yang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan isi perut menempati porsi mayoritas,” imbuh Steve.

Hal senada dikatakan Principal Keller Williams Solo, Susanto. Menurut dia, kalau untuk berbelanja gaya hidup, masyarakat pergi ke mal-mal di Yogyakarta. Mereka termasuk warga Solo, Semarang, dan kota-kota sekitarnya di Jawa Tengah.

“Sementara untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari cukup di pusat-pusat belanja di Solo,” tandas Susanto.

Kendati demikian, bukan berarti pengunjung yang memilih berbelanja langsung untuk kebutuhan isi perut tidak bisa dikategorikan kelas menengah ke atas. Hal itu sangat bergantung kepada harga makanan, dan jumlah uang yang dibelanjakan untuk kebutuhan isi perut itu.

“Misalnya, orang yang nongkrong di Starbucks atau Pisa Cafe, akan sangat berbeda dengan yang ngopi di Excelso dan restoran fast food,” kata Steve.

Parameter tersebut berlaku pula untuk menilai kelas-kelas pusat belanja di Jadebotabek. Pasalnya, kata Steve, pasar Indonesia masih berbentuk piramida terbalik, di mana kelas bawah mendominasi dibanding kelas menengah, dan atas. Meskipun sudah terjadi pergeseran signifikan sebagai akibat dari tingginya pertumbuhan ekonomi kurun 2010-2013 lalu.

“Timing”

Terkait semakin masifnya pembangunan pusat belanja di daerah, Steve berpandangan bahwa hal tersebut sangat didorong oleh jumlah populasi, dan pertumbuhan daya beli.

“Selama populasi terus bertambah, potensial untuk dikembangkan pusat belanja. Selain itu masalah timing. Itulah mengapa Sogo Department Store, Debbenhams Department Store, dan Metro Department Store melihat daerah sebagai wilayah ekspansi mereka,” papar Steve.

Berbisnis pusat belanja yang terkait erat dengan eskpansi peritel sifatnya investasi jangka panjang atau long term investment.

“Peritel yang disebutkan di atas justru mampu membaca pasar. Saat peritel lain mengerem laju ekspansi mereka malah merambah daerah. Untuk saat ini ekonomi memang sedang lesu, tapi nanti ketika bangkit lagi, peritel-peritel itu justru akan mendulang laba. Mereka sudah memperhitungkan faktor eksternal dan internal, sehingga berekspansi di daerah itu dianggap feasible,” pungkas Steve.

properti.kompas.com