Perjalanan Karir Sales TV Kabel yang Sukses Jadi Pengembang di Usia Belia

Big Banner

Banyak jalan menuju Roma. Demikian ungkapan yang sering kita dengar untuk menggambarkan betapa banyaknya jalan yang mengantarkan seseorang kepada perwujudan mimpinya. Demikian pula, apa yang dialami oleh pria ini. Beberapa tahun lalu ia masih datang dari pintu ke pintu rumah untuk menawarkan produk televisi berlangganan. Siapa pula yang menduga jika, kesuksesannya dalam kurun waktu yang singkat, menempatkan dia sebagai salah satu pengembang properti belia, yang dikenal luas di negeri ini.

“Ya, sebelum menjadi pengembang properti, saya kuliah di Australia, tinggal di sana 9 tahun. Setelah selesai kuliah, saya masih di Australia dan sempat bekerja di sana sebagai sales televisi kabel. Ditraining seminggu, setelah itu naik mobil berlima diturunin di permahan, ya sudah ngetok-ngetokin pintu rumah orang. Benar-benar belajar jadi marketing, karena latar belakang pendidikan saya kan sipil. Setelah itu sempat akhirnya diterima bekerja di perusahaan kontraktor juga,” ungkap Marcellius Chandra, Presiden Direktur Prioritas Land kepada Rumah123.com.

Kemampuannya memasarkan produk semakin diasah ketika ia kembali dari Australia dan bergabung dengan sebuah perusahaan network marketing asal Amerika Serikat. Menjual produk-produk premium Nu Skin ini cukup mengasah menjadi batu loncatan untuk terjun ke dunia properti.

“Tahun 2005 saya pulang ke Indonesia dan menjalankan bisnis multi level marketing, memasarkan produk asal Amerika dari Nu Skin. Di situ saya belajar marketing. Belajar presentasi, belajar training, belajar menelepon orang. Di sini saya jalankan selama empat tahun tapi saya belajar banyak hal, termasuk belajar memahami kepribadian orang. Saya ini kuper, enggak bergaul, temannya paling empat orang. Belum lagi kuliahnya di sipil. Ketemu sama cewek, ya enggak berani ngomong saya.”

Marcel tidak pernah memiliki mimpi yang kuat, kecuali sekadar pengen jadi developer karena kagum membaca profil para pengembang-pengembang hebat negeri ini dari majalah-majalah. Pada 2010, ia akhirnya bertemu dengan beberapa rekan yang akhirnya menemukan kesamaan ide untuk menjadi developer.

“Akhirnya kita cari tanah bareng.  Dari Surabaya, kita ke Situbondo, eh ternyata ada tanah di Bali, kita ke sana. Tanahnya berukuran 8 ribu meter persegi, masih hutan. Masuknya saja harus bawa-bawa parang, kayak Film Rambo. Tapi akhirnya di sini kami jualan 1 unit vila harganya Rp6 miliar. Akhirnya laku semua sih, dan sekarang ada yang mau beli ke pemilik ditawar Rp15 miliar pun enggak mau dilepas.”

Meski kini sudah mengantongi seabrek proyek di Jakarta, perjalanan pertama menjadi developer menyisakan pengalaman sendiri bahwa ternyata tidak gampang memasarkan properti. “Di Bali, karena tanahnya masih hutan, ada calon pembeli yang saya antar ke lokasi, sampai enggak mau turun dari mobil lho. Begitu diajak turun liat lokasi, dia enggak mau dan minta pulang saja. Ya, batal. Nah, itu yang saya katakan sebagai proses belajar.”

Kini Prioritas Land yang dinahkodainya terus berekspansi. Jiwa muda Marcel bersama partnernya Victor Irawan di posisi komisaris utama, terus melesat. Usai dari Bali, mereka merambah Serpong, jantungnya properti di Jabodetabek dengan proyek apartemen dan ruko di Majestic Point Serpong dan superblok K2 Park di Gading Serpong. Tak cuma Serpong, mereka juga membesut Apartemen Indigo di Bekasi Barat.

“Kita juga akan masuk ke perumahan, landed house. Persiapan sedang kita lakukan dan lokasinya di Tigaraksa, Tangerang,” tutup pria kelahiran Surabaya, 1979 ini.

Foto: Istimewa

rumah123.com