Capaian Target Marketing Sales Masih Jauh, Laju Saham SMRA Jaga Momentum Breakout

Big Banner

Sepanjang kuartal I 2015, PT Summarecon agung Tbk (SMRA) berhasil mengantongi pra penjualan atau marketing sales sebesar Rp 1,2 triliun. Dengan begitu realisasi marketing sales telah mencapai 21,8% dari target. Adapun pihak SMRA menyatakan pencapaian marketing sales tersebut hampir seluruhnya bersumber dari penjualan apartemen di Summarecon Serpong.

Sebagai informasi tahun ini SMRA membidik marketing sales Rp 5,5 triliun. Target itu naik 19% dari tahun 2014 sebesar Rp 4,6 triliun. Perseroan masih mengandalkan tiga portopolio utamanya yakni Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Bekasi dan Summarecon Serpong. Dari Kelapa Gading, SMRA menargetkan bisa membidik marketing sales Rp 500 miliar terutama dari proyek apartemen Kensington. Dari proyek apartemen Spring Lake bekasi ditargetkan sekitar Rp 1,5 triliun dan Rp 2,5 triliun dibidik dari proyek perumahan Maxwell Residenc, Ruko Aristoteles dan hunian lain di Summarecon Serpong, SMRA juga masih memiliki sisa marketing sales dari peluncuran apartemen Serpong Midtown yang seharusnya dibukukan tahun lalu. Tapi proyek ini pada akhirnya justru dialihkan (carry offer) di tahun ini dengan nilai mencapai Rp 1 triliun.

Sepanjang tahun 2014, SMRA  berhasil membukukan kenaikan laba bersih 26,36 persen hingga periode Desember 2014 menjadi Rp1,39 triliun atau Rp96,92 per saham, jika dibandingkan dengan laba bersih periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,10 triliun atai Rp76,40 per saham. Kinerja tersebut ditopang oleh pendapatan bersih yang dihasilkan Summarecon mencapai Rp5,33 triliun, lebih tinggi 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yakni Rp4,09 triliun. Namun margin laba bersih Summarecon cenderung stagnan di angka 26 persen.

Sementara pos beban pokok penjualan mengalami kenaikan hingga 30 persen, namun hal tersebut tidak menahan laju laba kotor.  Sehingga pada pos Laba kotor SMRA naik menjadi Rp2,78 triliun dari laba kotor tahun sebelumnya Rp2,14 triliun, dan laba usaha naik jadi Rp1,86 triliun dari laba usaha tahun sebelumnya Rp1,35 triliun. Laba sebelum pajak naik menjadi Rp1,68 triliun dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya Rp1,32 triliun.

Adapun pada pos posisi keuangan Total aset SMRA per Desember 2014 meningkat 37,5 persen menjadi Rp9,9 triliun. Bertambahnya lahan yang belum dikembangkan hingga 51 persen menjadi Rp4,3 triliun dan properti investasi yang juga meningkat 28 persen menjadi Rp4 triliun menambah total aset yang dimiliki Summarecon.

Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Senin (13/4/15) saham SMRA ditutup naik 2,9% pada level 1,870 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 1,885 dan bergerak dalam kisaran 1,870 – 1,965 dengan volume perdagangan saham mencapai 24,2 juta lembar saham.

Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham SMRA sejak awal bulan Januari terlihat terus mengalami penguatan tajam dalam upaya pertahankan tren positif. Terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola White Marubozu menembus Middle Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area jenuh beli setelah sebelumnya berada pada area tengah.

Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak naik yang menunjukan pergerakan SMRA dalam potensi pertahankan penguatan terbatas. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju SMRA masih akan mengejar level resistance dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan SMRA. Rekomendasi Maintained Buy pada target level resistance di level Rp2100 hingga target support di level Rp1590.

 

Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens

vibiznews.com