Empat Alasan Orang Indonesia Suka Berburu Properti Mewah di Singapura

SINGAPURA, KOMPAS.com -Sudah menjadi rahasia publik, orang-orang kaya Indonesia suka berburu properti mewah di Singapura.Kendati trennya sempat menurun selama 2013-2015, namun naik kembali pada tahun ini, ...

  • propertidata
  • 2016.09.15
  • 82

    view

  • Empat Alasan Orang Indonesia Suka Berburu Properti Mewah di Singapura

    SINGAPURA, KOMPAS.com - Sudah menjadi rahasia publik, orang-orang kaya Indonesia suka berburu properti mewah di Singapura.

    Kendati trennya sempat menurun selama 2013-2015, namun naik kembali pada tahun ini, setidaknya selama Januari hingga Agustus.

    Baca: WNI Pembeli Properti Mewah di Singapura Melonjak Empat Kali Lipat

    Lonjakan jumlah warga negara Indonesia (WNI) pembeli properti mewah di negeri Lee Hsien Loong ini menempatkannya sebagai pembeli asing teratas, selain China, dan Malaysia.

    Menurut Sim Mong Teck, seorang pengacara klien swasta di Singapura, dalam medio 1995-2010, orang Indonesia memiliki preferensi yang kuat untuk membeli properti di Core Central Region (CCR).

    CCR adalah kumpulan dari lokasi premium yang berada tepat di jantung kota Singapura. CCR mencakup Orchard, Cairnhill, Lembah Sungai, Ardmore, Bukit Timah, Holland Road, Tanglin, Watten Estate, Novena, Thomson, Raffles Place, Marina, dan Sentosa.

    Tak main-main, harga properti di kawasan ini boleh dibilang selangit, yakni senilai 10 juta dollar Singapura atau setara Rp 96,6 miliar.

    Label tinggi ini mencerminkan lokasi strategis, penataan yang sangat baik dan serta keleengkapan fasilitas yang melingkupinya.

    Namun, setelah 2010, aktivitas pembelian kemudian bergeser ke segmen menengah (mid-tier) seperti yang ditunjukkan oleh kenaikan penjualan properti di Rest of Central Region (RCR) dan Outside Central Region (OCR).

    Dari griya tawang (penthouse) mewah 10 juta dollar Singapura, sekarang konsumen Indonesia cenderung mencari kondominium di daerah pinggiran kota seperti Ang Mo Kio dan Jurong, dengan kisaran harga 1 juta-2 juta dollar Singapura (Rp 9,6 miliar-Rp 19,3 miliar).

    Ada empat alasan utama, mengapa orang Indonesia membeli properti di Singapura.

    1. Properti adalah instrumen investasi

    Di Singapura, sebuah negara yang sangat padat dengan populasi internasionalnya, tidak sulit untuk menemukan orang-orang yang ingin menyewa flat atau kondominium.

    Dengan demikian, pasar sewa sangat menggoda dan banyak orang Indonesia membeli properti Singapura hanya untuk disewakan kepada orang lain.

    2. Kualitas hidup di Singapura

    Tingkat perkembangan Singapura dibandingkan dengan kota-kota metropolitan di Indonesia jauh lebih modern dan tertata.

    Hilda B Alexander/Kompas.com Singapura

    Bagi orang Indonesia yang ingin tinggal di properti yang telah mereka beli, Singapura menawarkan kehidupan yang jauh lebih memuaskan dalam semua aspek.

    Mulai dari pendidikan kelas dunia, fasilitas kesehatan yang sangat memadai, infrastruktur publik yang sangat baik, tingkat keselamatan yang tinggi, hingga udara non-polutan.

    3. Memori tragedi 1998

    Krisis multidimensi 1998 yang telah menciptakan sebuah tragedi bagi kalangan minoritas mendorong aktivitas pembelian properti di Singapura.

    Tak mengherankan jika pembeli properti di Singapura kebanyakan berasal dari kalangan keturunan China atau etnis Tionghoa.

    Mereka menjadikan Singapura sebagai jaring pengaman, jika kelak terjadi lagi kerusuhan serupa di masa yang akan datang.

    Etnis Tionghoa sangat tahu bahwa sentimen anti-China di Indonesia belum sepenuhnya padam.

    4. Kemudahan transaksi pembelian properti

    Kemudahan transaksi keuangan dalam membeli properti di Singapura adalah hal yang juga sangat memikat.

    Menurut Teddy, seorang pemimpin tim penjualan properti di Far East Organization, ada beberapa keuntungan yang ditawarkan.

    Pertama adalah suku bunga kredit yang rendah hanya 2 persen, dibandingkan dengan 12 persen di Indonesia.

    Kedua adalah periode pembayaran kredit pemilikan properti yang bisa meencapai maksimum 30 tahun, dua kali lebih lama di Indonesia.

    Ketiga, ada jaminan bahwa proyek akan selesai dalam waktu yang teelah ditentukan alias tidak akan molor.

    Ini dimungkinkan kareena pemerintah Singapura akan memberlakukan denda pada pengembang jika konstruksi tertunda.

    properti.kompas.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci