Investor Properti Masih Menunggu Kepastian

Big Banner

Jakarta – Konsultan properti JLL menilai bahwa bisnis properti pada kuartal pertama 2015 melambat akibat pelemahan ekonomi nasional. Banyak investor yang menunggu kepastian kondisi ekonomi sebelum menggelontorkan investasi mereka.

“Pengaruh depresiasi rupiah, stabilisasi ekonomi dan persaingan, mengakibatkan sektor properti secara keseluruhan melambat pada awal 2015,” kata Director of Strategic Consulting JLL Suherman Herully, di Jakarta, Kamis (16/4).

Menurut dia, sektor yang paling merasakan perlambatan adalah sektor perkantoran, baik dari segi pasokan maupun juga penyerapan. Sedangkan perlambatan sektor ritel terutama dalam hal pasokan akibat moratorium perizinan yang berlanjut. Untuk residensial, penjualan masih berjalan baik, namun terjadi perlambatan pertumbuhan harga sepanjang kuartal pertama tahun 2015.

Sementara itu, di sektor perumahan, menurut Head of Residential JLL Luke Rowe, meski ekonomi makro melambat, penyerapan kondominium masih positif. Pada triwulan I-2015 penyerapannya mencapai 4.600 unit.

Head of Market JLL Angela Wibawa menambahkan, tingkat hunian (okupansi) perkantoran di kawasan CBD masih tetap stabil pada kisaran 94 persen. Penurunan terjadi ditingkat permintaan sebesar 4.400 meter persegi (m2) yang disebabkan oleh efesiensi, relokasi, dan penggabungan antara efesiensi dan relokasi.

Relokasi terjadi ke beberapa gedung perkantoran CBD yang lebih murah, maupun menuju ke gedung perkantoran di luar CBD. “Secara keseluruhan permintaan selama kuartal pertama menunjukkan penyerapan negatif yang lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya,” jelas dia.

Kondisi sebaliknya terjadi pada pasar perkantoran di luar CBD. Penyerapan ruang perkantoran selama triwulan I adalah 45.000 m2 terjadi di gedung perkantoran grade B dan C di Jakarta Selatan, seperti di Slipi dan TB Simatupang.

“Tingkat hunian gedung perkantoran di luar CBD capai 88% atau menurun sebesar 2 persen. Hal ini diakibatkan adanya pasokan baru sekitar 100 ribu meter persegi di kawasan TB Simatupang,” kata dia.

Menurut dia, untuk harga sewa perkantoran di CBD tidak mengalami perubahan signifikan, kecuali pada gedung perkantoran grade B dan C yang naik berkisar 4-6 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Pada awal 2015, pengembang menunjukkan tendensi menstabilkan harga sewa dan menaikkan service charge akibat pengaruh kenaikan tarif listrik,” kata dia.

Sementara itu, di sektor properti hunian tetap mendapatkan respons positif dari pasar, terutama sektor hunian vertikal. Segmen ini dianggap masih menjadi instrumen investasi yang cukup menarik.

Imam Mudzakir/FER

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me