Relaksasi Uang Muka Belum Dongkrak Penjualan Rumah di Sumsel

Bisnis.com, PALEMBANG - Kalangan pengembang di Sumatra Selatan menilai kebijakan relaksasi uang muka untuk pembelian rumah belum menjadi faktor utama dalam mendongkrak penjualan rumah saat ini khususnya ...

  • propertidata
  • 2016.09.16
  • 576

    view

  • Relaksasi Uang Muka Belum Dongkrak Penjualan Rumah di Sumsel

    Bisnis.com, PALEMBANG - Kalangan pengembang di Sumatra Selatan menilai kebijakan relaksasi uang muka untuk pembelian rumah belum menjadi faktor utama dalam mendongkrak penjualan rumah saat ini khususnya sektor rumah menengah ke atas.

    Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Sumsel Harriadi Benggawan mengatakan yang menjadi permasalahan utama sektor properti saat ini adalah rendahnya daya beli masyarakat.

    "Jadi dengan kondisi perekonomian yang belum terlalu pulih masyarakat masih berfikir ulang untuk memilih membeli rumah dengan kelas menengah ke atas," katanya, Kamis (15/9/2016).

    Sebelumnya, Bank Indonesia resmi mengatur ketentuan rasio nilai pinjaman dari aset (loan to value/LTV) kredit pemilikan rumah pertama menjadi 85%, sehingga uang muka yang harus dibayar nasabah menjadi 15% dari total harga rumah, menurun dibandingkan dengan sebelumnya 20%.

    Menurut Harriadi, kelonggaran LTV 15% tersebut masih dianggap terlalu tinggi jika mengacu kondisi perekonomian saat ini. Akan lebih baik lagi jika kelonggaran yang diberikan dari Bank Indonesia di posisi 10%. "Relaksasi uang muka tersebut sejauh ini belum terlihat efeknya pada pasar properti," katanya.

    Ada baiknya, kata Harri, jika kebijakan yang dikeluarkan BI tersebut mengambil contoh pada penerapan rumah MBR, dimana syarat uang muka rumah sebesar 5% dan bahkan bisa 1% jika kolektif.

    Selain itu, meski aturan LTV dilonggarkan, pada kenyataanya hal tersebut tidak sepenuhnya didukung lembanga perbankan penyalur KPR.

    "Bank masih terlalu selektif dalam menyalurkan KPR, meski demikian kami tetap mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah untuk mendongkrak pasar properti," katanya.

    REI memprediksi hingga akhir tahun ini, realisasi penjualan rumah di Sumsel secara total hanya mampu menyentuh angka 7.000--8.000 unit, yang mana dari jumlah tersebut lebih dari setengahnya didominasi penjualan rumah MBR.

    Analis Bank Indonesia, Dhika Arya Perdana mengatakan, relaksasi kredit perumahan ini dapat melengkapi stimulus dari pemerintah untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

    Sasaran dari relaksasi ini, permintaan masyarakat dapat meningkat, serta laju kredit perbankan juga dapat terus tumbuh. "Kami tidak ingin melewatkan momentum mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial," katanya.

    Meski belum dapat memprediksi nilai peningkatannya, Dhika menganggap aturan yang diberlakukan ini mampu mendongkrak penyaluran KPR dari perbankan setidaknya hingga akhir tahun ini.

    "Setidaknya prediksi kami pertumbuhanya jangan sampai di bawah kondisi pada semester satu lalu di posisi 4% dan secara nasional 7%," katanya.

    properti.bisnis.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci