Dollar Naik, Penyewa Perkantoran Menjerit

Big Banner

Kuartal pertama tahun 2015 industri properti mengalami kelesuan. Hal ini disebabkan karena pengaruh depresiasi rupiah, stabilitas perekonomian dan persaingan. Sektor yang paling merasakan perlambatan adalah perkantoran, baik dari segi pasokan maupun penyerapan. 

“Tingkat hunian perkantoran di area CBD (Central Business District) tetap stabil di kisaran 94 persen, penurunan terjadi di tingkat permintaan sebesar 4.400 m2 yang disebabkan oleh efesiensi, relokasi dan penggabungan antara efisiensi dan relokasi,” kata Angela Wibawa Head of Markets Jones Lang Lasalle (Konsultan Research Property). 

Menurut Angela, akibat depresiasi rupiah, terjadi relokasi dari gedung perkantoran CBD ke gedung yang lebih murah di luar CBD terutama perkantoran untuk grade A dan premium. 

“Karena transaksinya menggunakan dollar AS, maka terjadi relokasi para penyewa ke beberapa gedung perkantoran di kawasan yang lebih murah,” kata Angela kepada Rumahku.com

Harga sewa di kawasan pusat bisnis tidak mengalami perubahan yang signifikan kecuali pada gedung grade B dan C yang mengalami kenaikan sekitar empat hingga enam persen, dibandingkan triwulan sebelumnya. 

Menurut Angela, para pengembang menjelang awal 2015, menunjukkan adanya tendensi untuk menstabilkan harga sewa dan menaikkan harga layanan akibat pengaruh kenaikan tarif listrik, kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) dan upah minimum regional.

 

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me