Ini Jurus Pengembang Kawasan Elit Jakarta Tangkal Banjir

Big Banner

Jakarta -Bagi Anda yang pernah melintas di Kawasan Pantai Indah (PIK), Jakarta Utara, di tepi sungai besar kawasan tersebut terlihat pompa-pompa besar yang beroperasi saat hujan datang. Kawasan ini relatif ‘selamat’ dari banjir salah satunya karena peranan pompa-pompa air ‘raksasa’ tersebut.

Kawasan PIK hanya sekian dari banyak hunian elit di Jakarta Utara seperti Kelapa Gading, Pluit dan lainnya yang tetap ‘kering’, meski akses ke kawasan tersebut tergenang banjir.

?”Banjir itu hanya di jalanan. Nggak sampai yang masuk ke perumahan atau mal. Pernah kejadian 1 atau dua kali, tapi nggak sering,” ujar Head of Research Savills PCI, Anton Sitorus kepada detikFinance? Selasa (10/2/2015).

Anton mengatakan, selain upaya pengembang sejak awal membangun unit-unit hunian lebih tinggi dari jalan, juga penggunaan teknologi pompa juga bisa menahan banjir hingga masuk ke hunian.

“Di Kelapa Gading misalnya, itu kan posisi tanahnya lebih tinggi dari yang lain. Jadi jarang banjir sampai masuk ke pemukiman,” kata Anton.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan Dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo mengatakan para pengembang kawasan elit telah menggunakan teknologi untuk mengamankan kawasan properti yang dijualnya.

“?Pengembang di kawasan-kawasan itu (elit) memang sudah menerapkan teknologi penanggulangan banjir yang canggih pakai pompa misalnya. Jadi di dalam (pemukiman) nggak banjir, tapi banjirnya ke jalanan,” katanya.

Menurut Eddy, sejumlah kawasan elit di Jakarta tetap menjadi istimewa sehingga harga propertinya tetap tinggi. Eddy mengakui tak selamanya teknologi yang ada cukup ampuh untuk menghalau banjir di Jakarta yang kian mengkhawatirkan.

Ia menambahkan penggunaan teknologi-teknologi anti banjir yang digunakan para pengembang untuk mengamankan lokasi hunian yang digarapnya juga memberikan andil cukup besar membuat banjir di kawasan Jakarta lebih parah. Hal ini karena penggunaan teknologi anti banjir, genangan yang sedianya mengalir ke utara Jakarta malah tertahan dan terkumpul kembali ke tengah kota.

“Air itu kan sifatnya mengalir ke tempat yang lebih rendah. Karena pemukiman tadi pakai pompa airnya dikeluarkan sehingga justru airnya dikembalikan ke luar pemukiman dan banjirnya jadi lebih tinggi,” katanya.

finance.detik.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me