Ini Dia Bedanya SHGB dan SHM

Properti berupa bangunan memiliki dua jenis sertifikat yakni SHGB dan SHM. Yang menjadi pertanyaan, apa yang membedakan dari dua sertifikat tersebut?JAKARTA Properti adalah salah satu alat untuk berinvestasi ...

  • propertidata
  • 2016.09.20
  • 360

    view

  • Ini Dia Bedanya SHGB dan SHM

    Properti berupa bangunan memiliki dua jenis sertifikat yakni SHGB dan SHM. Yang menjadi pertanyaan, apa yang membedakan dari dua sertifikat tersebut?JAKARTA – Properti adalah salah satu alat untuk berinvestasi. Capital gain yang tinggi, membuat banyak pihak berlomba-lomba untuk memiliki properti. Di Jakarta properti dalam bentuk hunian jangkung atau apartemen sangatlah marak.

    Sebagai kota metropolitan, kaum urban Jakarta umumnya membutuhkan hunian yang praktis dan nyaman. Dalam hal ini, apartemen menjadi pilihan utama. Namun, masih banyak masyarakat yang ragu dalam membeli apartemen. Apalagi bila dikaitkan dengan hak kepemilikan properti, baik tanah maupun bangunan.

    Yang patut dipahami, apartemen dan landed house tidak jauh berbeda dalam hal legalitasnya. Namun, yang membuat beda keduanya, terletak pada kepemilikan tanahnya.

    Untuk rumah tapak dikenal dengan 2 jenis sertifikat, yakni Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan Sertifikat Hak Milik (SHM). Umumnya, SHM pertama kali dimiliki oleh pengembang. Kemudian dengan upaya balik nama, SHM bisa jadi milik penghuni.

    Sedangkan, untuk apartemen, lahan adalah milik pengembang, sementara pemilik unit akan memegang sertifikat strata title. Ini setara dengan SHGB.

    Menurut Steffanus Herryanto, selaku pengembang dari Principle Expro Realty, strata title merupakan pembagian dari HGB Murni yang nanti akan dibagikan ke seluruh penghuni.

    “Strata title mempunyai batas waktu pemakaian, yakni bisa 20 – 40 tahun. Namun, bukan berarti setelah batas waktu tersebut, bangunan akan dihancurkan, dan penghuni hengkang dari unit tersebut. Status bangunan masih milik penghuni sampai kapan pun, karena status tanah milik perusahaan sepenuhnya. Namun, penghuni perlu memperpanjang masa pemakaian tersebut kembali,” kata Steffanus, seperti dilansir dari laman okezone.com, Selasa (20/9/2016).

    Calon penghuni diharuskan teliti sebelum membeli, terutama untuk mengetahui legalitas dari apartemen tersebut. Caranya, dengan dilihat dari kerjasama bersama pihak bank.

    “Sebab, pihak bank tentu tidak akan mengambil resiko memberikan KPR, kepada status bangunan yang tidak sah, itu sudah pasti,” ucapnya. 

    infonitas.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci