Ini Jurus Pengembang Apartemen Mewah Hadapi Dolar yang Dekati Rp 13.000

Big Banner

Jakarta -Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terus berlangsung sampai sekarang. Perlahan dolar mulai mendekati angka Rp 13.000, sekitar di angka Rp 12.800.

Kondisi ini sudah terasa pengaruhnya terhadap industri properti, seperti yang dialami oleh PT Farpoint Realty Indonesia, pengembang apartemen kelas premium.

Farpoint Realty Indonesia merupakan bagian dari Gunung Sewu Group, yang salah satu proyeknya adalah kondominium mewah Verde di Kuningan, Jakarta Selatan.

“Pelemahan rupiah membuat kita cukup berhati-hati untuk berinvestasi,” ungkap CEO Farpoint Jusup Halimi saat berbincang di Apartemen Verde, Jakarta, Kamis (26/2/2015)

Jusup menjelaskan, persoalan nilai tukar memang masuk dalam kategori risiko yang sulit diprediksi. Sebab ada pengaruh eksternal cukup kuat di dalamnya. Apalagi terhadap negara seperti Indonesia yang masih lemah fundamentalnya.

Bagi perusahaan properti, pelemahan nilai tukar berpengaruh terhadap biaya konstruksi. Khususnya pada biaya-biaya material utama yang datangnya dari luar negeri (impor).

“Misalnya besi, baja, furnitur atau barang yang tidak bisa dipenuhi dari lokal,” jelasnya.

Sebagai antisipasi, Jusup mengaku punya siasat tersendiri. Salah satunya dengan memperhitungkan rentang pelemahan nilai tukar yang kemudian disesuaikan dengan biaya konstruksi.

Dengan demikian, biaya konstruksi sudah menyertakan di dalamnya risiko terhadap nilai tukar. Investasi memang akan sedikit lebih tinggi. Namun setidaknya itu sudah dipersiapkan dari awal.

“Makanya saya main di range. Biar tidak terlalu tertekan,” ujarnya

finance.detik.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me