Menteri Ferry Akan Hapus NJOP Tanah dan Bangunan

Big Banner

Jakarta -Menteri Agraria dan Tata Ruang? Ferry Mursyidan Baldan tengah menyiapkan usulan untuk menghapus Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dalam penentuan harga jual tanah maupun bangunan di suatu wilayah.?

Ketika dihubungi detikFinance melalui sambungan telpon Selasa (3/2/2015), Ferry mengungkapkan sejumlah pertimbangan yang mendasari adanya kajian terhadap usulan tersebut.

Ia menilai, selama ini sudah? semakin sedikitnya masyarakat baik itu pemilik lahan maupun para pelaku usaha yang menggunakan NJOP sebagai acuan dasar transaksi jual beli tanah maupun unit bangunan.

“NJOP itu selama ini tidak dipakai. Tidak ada sekarang pengembang beli pakai NJOP. NJOP itu dianggap terlalu rendah dan tidak mencerminkan harga pasar. Masyarakat juga begitu (menganggap NJOP tidak mencerminkan harga pasar),” jelas Ferry.??

Ferry mengakui, perkembangan NJOP memang sudah tidak sejalan dengan perkembangan harga pasar atas tanah dan bangunan. Hal ini lah yang menyebabkannya semakin ditinggalkan masyarakat dalam hal penetapan harga pada sebuah transaksi jual beli.

Sebenarnya, dalam Keputusan Direktur Jenderal No. 16/PJ.6/1998 tanggal 30 Desember 1998 dijelaskan bagaimana menentukan besarnya NJOP dengan harapan bisa dijadikan harga acuan dalam sebuah transaksi jual beli atas tanah maupun bangunan.

Namun, dalam praktiknya di lapangan, NJOP sering dimanfaatkan oleh pengembang sebagai ajang untuk merendahkan harga tanah yang ditransaksikan. Padahal, kata dia, NJOP ini nantinya tak lagi dijadikan acuan saat bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut dijual.

Hal ini menimbulkan ketidakadilan, karena harga tanah dan hunian yang dijual pengembang nantinya bisa berkali-kali lipat dari harga NJOP yang pada akhirnya membuat masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah kesulitan untuk memperoleh hunian.

“Selama ini adanya NJOP dianggap sudah tidak sejalan dengan perkembangan harga pasar lahan di satu wilayah. Makanya saya usul ini (NJOP) untuk dihapus nanti kita (penetapan harga tanah dan bangunan) mengacu harga pasar,” pungkas dia.

(dna/ang)

finance.detik.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me