Property Bubble di Tiongkok Makin Besar

Housing-Estate.com, Jakarta - Peringatan keras dikeluarkan bank sentral Tiongkok, Bank of China, bahwa property bubble di negerinya semakin menggelembung. Gelembung properti adalah bahaya terbesar bagi ...

  • propertidata
  • 2016.10.01
  • 417

    view

  • Property Bubble di Tiongkok Makin Besar

    Housing-Estate.com, Jakarta - Peringatan keras dikeluarkan bank sentral Tiongkok, Bank of China, bahwa property bubble di negerinya semakin menggelembung. “Gelembung properti adalah bahaya terbesar bagi ekonomi Tiongkok,” kata Zhou Jingtong, ekonom senior di bank komersial pelat merah Tiongkok, yang disampaikan pada laporan trisemester bank tersebut. Meroketnya harga rumah akan semakin memperlebar kesenjangan dan kesengsaraan ekonomi yang sudah terjadi. Gelembung itu terjadi karena spekulasi properti dianggap lumrah, setiap orang akan bermimpi bisa mendapat keuntungan dalam satu malam, padahal ini sangat berbahaya.

    Harga residensial di kota-kota utama Tiongkok, seperti Shanghai dan Shenzhen, melonjak 30-40 persen pada tahun ini. Mayoritas kredit perbankan terserap ke properti dan mendorong harga hingga tak terjangkau bagi  kebanyakan warga setempat.  Pemerintah lokal di kota sekunder, seperti Nanjing dan Hangzhou sudah mencoba menekan kenaikan harga properti di kotanya, dengan membuat batasan-batasan dalam pembelian rumah. Sayangnya, peraturan tersebut seperti sia-sia, di antara hiruk pikuk pembelian, terbatasnya pasokan dan berlimpahnya pasok moneter.

    Ekonom Bank of China menulis dalam proyeksi keuangan trisemesternya bahwa pasar properti yang sudah dalam kondisi merah tersebut semakin menyulitkan pembuatan kebijakan. Padahal kebijakan tersebut dimaksudkan demi mencapai beberapa tujuan, terutama menjaga stabilitas nilai tukar mata uangnya dan menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri. “Kebijakan makro sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas pertumbuhan dan membatasi gelembung aset,” kata salah satu bank terbesar di Tiongkok.

    Sementara, tindakan keras di pasar properti akan membahayakan ekonomi negara yang sudah rapuh. Pertumbuhan yang tidak terkendali di pasar tersebut juga akan meningkatkan jaminan pinjaman dan memperbesar risiko keuangan. Meskipun kuatnya sektor properti dapat membantu investasi dan pertumbuhan secara keseluruhan, di mana bank memperkirakan pertumbuhan pada kuartal empat tahun ini bisa mencapai 6,7 persen, namun hal tersebut justru bisa menghantam sektor manufaktur dan lainnya.

    Tingkat pengembalian investasi di sektor manufaktur merosot ke posisi 5,4 persen pada tahun 2015, dibandingkan kondisi tahun 2006 yang masih bisa mencapai 6,7 persen. Sebaliknya tingkat pengembalian investasi di sektor properti, jika pada tahun 2006 “hanya” 8,2 persen, pada tahun 2013 justru melonjak jadi 13,6 persen.

    Menurut laporan Bank of China, gelembung properti ini akan memperburuk kemampuan Tiongkok untuk mengendalikan dampak kenaikan tingkat suku bunga yang akan dilakukan Federal Reserve, terhadap nilai tukar uangnya. Jika gelembung itu makin besar, kesempatan bank sentral Tiongkok untuk memotong suku bunganya akan berkurang. Karena itu, “Bank sentral harus semakin menambah bobot pada risiko harga aset dalam kebijakan moneternya,” kata Wang Youxin, periset dari bank sentral.

    Sumber: South China Morning Post

    housing-estate.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci