Ini Kota-Kota Paling Berisiko Housing Bubble

Housing-Estate.com, Jakarta - Vancouver (Kanada), London (Inggris) dan Stockholm (Swedia) adalah tiga kota di dunia paling berisiko mengalami housing bubble. Demikian hasil analisa UBS Group AG atas 18 ...

  • propertidata
  • 2016.10.01
  • 450

    view

  • Ini Kota-Kota Paling Berisiko Housing Bubble

    Housing-Estate.com, Jakarta - Vancouver (Kanada), London (Inggris) dan Stockholm (Swedia) adalah tiga kota di dunia paling berisiko mengalami housing bubble. Demikian hasil analisa UBS Group AG atas 18 pusat keuangan dunia, untuk laporan 2016 Global Real Estate Bubble Index . Tingginya risiko tersebut, karena ketiganya mengalami kenaikan harga rumah paling tinggi dalam lima tahun terakhir.  UBS mengingatkan,  Sydney (Australia), Munich (Jerman) dan Hong Kong (RRT) harus bersiap menghadapi hal yang sama, walau tidak sesegera ketiga kota tadi. Sementara itu, San Francisco adalah kota di Amerika Serikat yang harga rumahnya sudah terlampau tinggi  (overvalued), tapi belum berisiko bubble.

    Menurut UBS, harga rumah di kota-kota yang mengarah ke bubble mengalami kenaikan hampir 50 persen sejak 2011. Sementara kota-kota lain yang kondisinya “baik-baik saja” kenaikannya kurang dari 15 persen. Tingkat suku bunga yang rendah, aliran masuk uang global dan optimisme investor terhadap kondisi suatu kota adalah hal-hal yang mendorong kenaikan nilai properti tersebut.

    “Perubahan kondisi makroekonomi, pergeseran sentimen investor atau adanya penambahan pasok besar-besaran bisa memicu kecepatan turunnya harga rumah,” kata pihak UBS. Namun demikian, dalam jangka menengah investor di pasar yang sudah overvalued jangan terlalu berharap akan ada apresiasi harga baru yang lebih realistis.

    Posisi Vancouver pada tahun lalu berada di posisi keempat. Kenaikan tersebut disebabkan dalam satu dekade terakhir harga rumah di ibukota Kanada itu naik dua kali lipat. Akibatnya, penduduk lokal berteriak karena mereka tidak lagi sanggup menjangkau, di mana harga pasaran saat ini memakan 90 persen dari pendapatan sebelum pajak.  Menurut the Real Estate Board of Greater Vancouver, rumah tipe detached single-family alias rumah tidak berderet, berharga 1,6 juta dolar Kanada atau hampir Rp16 miliar. Tingginya harga tersebut, karena properti di Vancouver sedang diminati investor asing, terutama dari negeri Cina. Sampai-sampai pemerintah setempat harus menaikkan pajak pembelian properti untuk orang asing, menjadi 15 persen.

    Dalam laporannya, UBS menyatakan kota-kota di Eropa sudah mengalami overvalued menyusul rendahnya tingkat suku bunga dan memanasnya permintaan atas rumah-rumah di perkotaan. Termasuk di dalam daftar tersebut adalah Amsterdam (Belanda), Zurich (Swiss), Paris (Prancis) dan Jenewa (Swiss)  yang selama ini mengalami kenaikan harga secara normal. Dari semua kota pusat keuangan dunia yang disurvei, Chicago berada di posisi terendah, di mana harga rumahnya belum pulih betul akibat resesi.

    Sayangnya, survei ini tidak memasukkan kota-kota di Cina daratan di mana sebenarnya mayoritas kota-kotanya sudah tidak lagi dalam kondisi booming. Menurut UBS, hal tersebut dikarenakan tidak tersedianya data yang cukup untuk dianalisa. Namun demikian banyak warga kota yang bekerja di sektor jasa dan mempunyai pendapatan tahunan tinggi tidak lagi sanggup membeli rumah di kota mereka tinggal, bahkan untuk rata-rata ukuran 60 m2.

    Sumber: Bloomberg

    housing-estate.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci