INVESTASI PROPERTI, Investor Indonesia Sasar Pasar Malaysia

Big Banner

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah investor memutuskan membeli unit apartemen di luar negeri karena menganggap properti dalam negeri melesu. Investor juga menghindar dari penerapan pajak beruntun dari pajak barang mewah dan pajak barang sangat mewah.

Meskipun suplai apartemen milik atau kondominium di Indonesia tidak kekurangan, investor selalu mencari celah untuk belanja unit di luar negeri. Kali ini, investor merambah pasar Malaysia khususnya di Johor Baru.

Agen Properti ERA VIGO  mencatat warga Indonesia memiliki kebiasan membeli dua hingga tiga unit apartemen yang sedang diluncurkan di Johor Baru. Selain untuk ajang investasi, tidak sedikit juga yang ditinggali untuk menghabiskan masa pensiun.

Managing Director ERA VIGO Riduan Goh memaparkan investor yang paling banyak bertandang ke Johor Baru adalah warga Jakarta Selatan. Menurutnya, sistem perpajakan yang tidak rumit di Johor Baru dinilai menjadi penarik minat investor asal Indonesia..

“Konsumen hanya dibebani pajak semacam bea perolehan hak atas tanah dan bangunan maksimal 2%. Sementara komponen pajak yang lainnya tidak setinggi di Indonesia,” katanya usai peluncuran Apartemen Paradiso Nouva di Jakarta, Rabu (22/4/2015).

Oleh karena itu, pihaknya mengincar 70% pembeli asal Indonesia untuk apartemen Paradiso Nouva di Johor Baru. Dia menargetkan nilai transaksi Rp120 miliar dalam dua hari pameran di Jakarta pada akhir pekan mendatang. Sebelumnya, hanya dalam satu malam, investor Indonesia telah menyumbang Rp60 miliar nilai transasksi.

Sebagai pengembang apartemen, Zhouyan Iskandar PTE Ltd, mengembangkan apartemen segmen menengah ke atas di pusat bisnis Medini, Johor Baru.

Perusahaan memang menjaring ekspatriat dari Indonesia, China, Taiwan dan Singapura. “Pasar untuk orang Indonesia memang lebih banyak, kemudian baru disusul investor China,” Kata Deputy Director Zhouyuan Iskandar Bernard Key pada kesempatan yang sama.

Unit apartemen tersebut dipasarkan dengan standar kelas menengah ke atas yaitu Rp31 juta per meter persegi. Klasifikasi itu tidak jauh berbeda harga unit segmen serupa yang ditawarkan di Indonesia. Tipe favorit investor asal indonesia berupa tipe dua kamar seluas 106 m2 dan tipe tiga kamar seluas 146 m2.

Proyek yang merupakan hasil patungan dari pengembang Singapura dan Pemerintahan Johor Baru ini akan dikembangkan 6 menara apartemen hingga 2019. Adapun tahap pertama dibangun 2 menara yang menelan investasi bangunan 300-400 juta ringgit atau setara Rp1,04-1,4 triliun.

Selain di Jakarta, perusahaan juga memasarkan proyeknya di Medan dan Semarang. Pasalnya, ceruk pasar dari Indonesia dinilai cukup banyak dan potensial

properti.bisnis.com