Jika Semua Pengembang Punya Visi Seperti Anak Muda Ini, Maka…

Big Banner

Hari-hari ini, adalah momentum penting dalam kehidupan pria ini untuk menentukan kesuksesan berikut, pada proyek properti yang tengah ia tangani. Tonggak berikut, sekaligus pembuktian bahwa ia sanggup melampaui sukses yang pernah digoreskan sebelumnya.

Ya, pada penjualan cluster pertama dahulu, ia mencatat hasil gemilang. Betapapun orang lain memandangnya, sejarah properti di Indonesia telah mencatat dengan baik, ketika Museum Rekor Indonesia (MURI) mengganjar proyek yang dipasarkannya dengan penghargaan sebagai pemecah rekor, penjualan 131 unit rumah dalam sehari. Proyek itu adalah Botanica Valley yang dikembangkan PT Surya Agung Realty dan pria itu adalah Andreas Audyanto, Promotion & Marketing Director PT Surya Agung Realty.

Senin, 20 April 2015 ini pun, Audyanto akan memperkenalkan New Cluster Clivia kepada konsumen dan agen properti sebagai produk terbaru dari Botanica Valley. Sebuah proyek yang menurutnya, senantiasa menyajikan konsep unik dan berkwalitas bagi penghuninya. Karena, menurut dia konsumen properti saat ini sudah sangat cerdas untuk menilai sebuah proyek, apakah sesuai dengan kebutuhan mereka atau tidak.

“Apabila sebuah proyek tersebut memberikan value sesuai kebutuhan mereka (konsumen-red), dan di kemas oleh sosok yang tidak asing bagi mereka, ini (akan menjadi-red) kesempatan bagi mereka, karena mereka tahu bahwa dengan kualitas hunian yang baik, maka komponen profit yang dimasukkan pasti tidak akan sebesar developer ternama,” kata dia.

Mengapa? Bagi Audy – demikian ia disapa, keinginan dan tekad untuk membuktikan bahwa produk besutannya tidak perlu diragukan kwalitasnya, akan membuat developer ini komit dan konsisten memberikan yang terbaik. Pembuktian sekaligus komitmen inilah yang tetap menyemangatinya dalam meluncurkan New Cluster Clivia ini ke pasar.

35 tahun, bukan usia yang terlampau muda. Tidak juga terlalu tua, jika Audy pun baru berkenalan dengan dunia properti di tahun 2000. Itu pun tidak secara kontinyu ia menggeluti dunia properti, khususnya dalam memasarkan proyek-proyek milik pengembang. Namun rekam jejaknya dalam memasarkan Bali Resort, proyek besutan MSA Group di kawasan Serpong pun mencatat hasil gemilang. Tak hanya itu, sebagai mentor, ia pun sukses mendampingi anak-anak muda yang mengembangkan Teras Ubud di Kranggan, Cibubur.

Dalam perspektif pria yang pernah bergabung dengan Grup Sinar Mas selama tujuh tahun itu, sebuah proyek properti yang hebat adalah padupadan yang solid dari tiga unsur utama, yakni knowledge, experiences dan determination. Prinsip ini mengandung komitmen dan konsistensi. Satu saja dari ketiga unsur itu hilang, maka luntur sudah konsepsi proyek properti yang ia usung itu.

“Saya pengagum Bob Sadino,” ujarnya disela obrolan santai namun bernas, sore itu. Ya, almahrum Om Bob adalah seorang entrepreneur yang bebas, inspiratif dan tak terhitung lagi jasanya mementori orang-orang muda yang nekad menjadi wirausahawan sukses. Dari sisi usia, Audy mungkin masih terlampau muda untuk disandingkan dengan Bob Sadino, namun mereka menganut beberapa nilai yang sama.

“Saya penggemar tato dan badan saya penuh tato. Bagi saya, ini tidak akan membatasi saya untuk berinovasi menghasilkan produk-produk yang senantiasa memuaskan konsumen. Almahrum Bob Sadino pun demikian, siapa yang pernah meragukan kapasitasnya sekalipun kemana-mana ia hanya bercelana pendek?,” tukasnya.

Konsep adalah diksi yang tidak pernah masuk dalam list ‘tiga besar’ aspek penentu nilai sebuah proyek properti. Pakem 3L, lokasi, lokasi dan lokasi menurut Audy kini tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang juga semakin meningkat derajat pemenuhannya. “Saya menambahkannya dengan konsep. Konsep inilah yang akan menjadi pembeda proyek kami dengan yang lainnya. Bayangkan saja, lokasi kami di bawah sutet-(lintasan kabel listrik bertegangan tinggi-red), tetapi justru kami jadikan itu sebagai sebuah daya tarik sendiri.”

Keyakinan Audy akan konsep yang dia usung, bukan tanpa rekam jejak yang pernah terbukti. Tengok saja bagaimana proyek ‘mainannya’ terdahulu, Bali Resort yang sudah ludes terjual itu. Nuansa Bali yang kental, berhasil ia hadirkan di perumahan di Serpong itu, termasuk dengan mendatangkan sejumlah ornamen rumah, langsung dari Bali.

Jauh sebelum itu, usai dari Grup Sinar Mas (kini Sinar Mas Land –red), Audy berturut-turut sempat menjadi kontraktor hingga akhirnya menjadi developer untuk dua kavling seluas 5.000 m2, yang dia beli di BSD City. Kavling tersebut ia bangunkan rumah yang didesain sendiri. Terbersit kebanggaan di raut wajahnya ketika ia berkisah bahwa sang pembeli sangat menyukai karya rancangannya itu.

“Saya tidak pernah sekolah atau belajar desain,” buru-buru alumnus HELP Institute, Kuala Lumpur ini memberikan catatan.

Kini didukung oleh tim kreatif yang solid, Botanica Valley menapak yakin pada kekuatan jaringan pemasar properti yang dibangunnya selama bertahun-tahun itu. “Saya tidak punya in-house marketing tapi hampir 500-an teman-teman saya, para agen properti-lah yang membantu saya memecahkan rekor penjualan luar biasa ini,” ucapnya.

Perjalanan karir Audy di ladang properti belumlah lama. Ia baru saja mulai dengan mengejawantahkan kredo LLC – location, location and concept. Jika kemudian sukses, bagi dia itu adalah pembuktian yang harus terus menerus ia lakukan demi kepuasan konsumen. Ini pula menjadi bagian dari perjalanan panjangnya untuk mewujudkan mimpinya menjadi pengembang properti nomor wahid di Indonesia.

“Saya belajar dari guru saya Pak Panangian dan para pengajar di Panangian School of Property, juga dari Pak Andy Natanael (Jakarta Garden City-red), Ibu Rita Megawati (LJ Hooker Gading Serpong-red) dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan semua. Mereka yang mengajarkan kepada saya, bagaimana menjadi developer yang tidak hanya menjual rumah, tidak hanya menjual kenaikan value, tetapi juga kwalitas kehidupan yang semakin dibutuhkan konsumen. Saat ini, banyak developer yang mulai melupakan itu.”

Andreas Audyanto, sosok muda yang enerjik dan berkarakter fighter ini tampak cukup idealis dalam posisinya sebagai pengembang. Namun dengan idealisme yang sudah dibuktikan dalam wujud produk itu, patutlah konsumen properti pun berkata, ‘Jika semua pengembang properti memiliki visi seperti anak muda ini, maka tidak akan ada lagi orang menyesal karena telah salah membeli rumah dari tangan developer yang lebih mengutamakan keuntungan yang tinggi.”

Foto: Istimewa (Sumber: andreasaudyanto.com)

rumah123.com