Pasokan Terlalu Tinggi, Okupansi Perkantoran Tertekan 10% Sejak 2014

Bisnis.com, JAKARTA - Konsultan properti PT Colliers International Indonesia mengungkapkan okupansi perkantoran di Jakarta terus melemah seiring kian tingginya pasokan tanpa diimbangi permintaan yang seimbang ...

  • propertidata
  • 2016.10.05
  • 719

    view

  • Pasokan Terlalu Tinggi, Okupansi Perkantoran Tertekan 10% Sejak 2014

    Bisnis.com, JAKARTA - Konsultan properti PT Colliers International Indonesia mengungkapkan okupansi perkantoran di Jakarta terus melemah seiring kian tingginya pasokan tanpa diimbangi permintaan yang seimbang.

    Pertumbahan pasokan baru di kawasan pusat bisnis atau central business district (CDB) Jakarta tahun ini mencapai 666.430 meter persegi (m2) dan menjadi pertumbuhan tahunan tertinggi sejak 1990, sedangkan di luar CBD mencapai 660.000 m2.

    Pertumbuhan yang sangat tinggi ini belum diimbangi pertumbuhan permintaan dan kian diperparah oleh kondisi ekonomi global dan domestik yang masih tertekan. Penyerapan terus tertekan, terlihat dari tingkat okupansi yang terus melemah, kini di posisi 84,6% untuk CBD, lalu 87,1% non-CBD, dan 79,2% di TB Simatupang.

    Ferry mengatakan tingkat okupansi ini sudah melemah rata-rata sekitar 10% lebih rendah dibandingkan okupansi sebelum 2014 lalu. Okupansi ini berpotensi terus melemah seiring masih banyaknya pasokan baru yang dijadwalkan akan selesai hingga 2019 nanti.

    Saat ini, pasokan kantor CBD mencapai 5,5 juta m2 dan akan bertambah 2 juta m2 lagi hingga 2019, sedangkan di luar CBD kini 2,9 juta m2 dan akan bertambah 835.000 m2.

    Sekitar 95,5% dari gedung yang akan selesai di CBD hingga 2019 nanti saat ini telah dimulai pembangunannya, sementara baru sekitar 20%-25% yang sudah mengantongi pre-komitmen dari penyewa.

    “Saat ini, gedung-gedung baru itu tingkat okupansinya tidak terlalu tinggi, ada bahkan yang sudah beroperasi tetapi cuma 10% okupansinya. Itu sudah umum terjadi karena kantor-kantor baru itu luasnya hampir 100.000 m2. Untuk mengisi itu, butuh dukungan makroekonomi yang besar, sementara ekonomi kita masih perlambatan,” katanya dalam acara paparan kinerja properti Jakarta kuartal III/2016, Selasa (4/10/2016).

    Alhasil, koreksi harga sewa kantor menjadi tidak terhindarkan karena daya tawar lebih tinggi berada di tangan penyewa.  Para penyewa memiliki banyak pilihan sehingga memicu aksi relokasi kantor yang marak ke gedung-gedung baru yang kelasnya lebih tinggi.

    properti.bisnis.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci