Tingkat Hunian Perkantoran di Surabaya Merosot 10 Persen

JAKARTA, KOMPAs.com -Serupa dengan Jakarta, ruang perkantoran di Surabaya pun mengalami kelebihan pasokan, menyusul rampungnya tiga gedung baru yakni AMG Tower, MNC Tower, dan Skyline Office Tower.(Baca: ...

  • propertidata
  • 2016.10.05
  • 366

    view

  • Tingkat Hunian Perkantoran di Surabaya Merosot 10 Persen

    JAKARTA, KOMPAs.com - Serupa dengan Jakarta, ruang perkantoran di Surabaya pun mengalami kelebihan pasokan, menyusul rampungnya tiga gedung baru yakni AMG Tower, MNC Tower, dan Skyline Office Tower.

    (Baca: Perkantoran "Over Supply", Pengelola Terpaksa Turunkan Harga Sewa)

    Head of Surabaya Office Joseph Lukito menjelaskan, pasokan baru tersebut mendorong tingkat hunian semakin menurun. 

    Pasalnya, ketiga gedung perkantoran baru tersebut belum sepenuhnya terserap pasar. Tingkat okupansinya masih sekitar 30 persen.

    Sementara tingkat hunian rata-rata hanya 69 persen, jatuh 10 persen sejak akhir tahun 2015 yang berlanjut hingga kuartal III-2016 ini.

    Untuk perkantoran Grade A saja, tingkat huniannya melorot hingga menjadi 75 persen. Belum lagi perkantoran berklasifikasi di bawahnya.

    Gedung perkantoran Grade B hanya mencatat tingkat hunian 68 persen, dan Grade C 64 persen. 

    "Lemahnya permintaan juga ikut berkontribusi terhadap buruknya kinerja perkantoran di Surabaya. Banyak perusahaan yang memperkecil ruang peerkantoran demi efisiensi dan fenomena relokasi dari gedung perkantoran ke ruko," ujar Lukito kepada Kompas.com, Rabu (5/10/2016). 

    Menurut Lukito permintaan ruang perkantoran di Surabaya juga belum setinggi di Jakarta. Hal ini karena budaya berkantor di gedung-gedung perkantoran belum melembaga.

    Perusahaan dan pebisnis lokal masih memandang berkantor di ruko atau kios-kios tertentu lebih nyaman dan menguntungkan.

    Sementara perusahaan Nasional yang bergerak di sektor perdagangan daring (e-commerce) yang kini sedang menjadi primadona, dan perusahaan perbankan tidak membutuhkan ruang-ruang di gedung perkantoran.

    "Mereka cukup membuka back office dan melengkapinya dengan pergudangan untuk barang-barang mereka kemudian didistribusikan ke seluruh Indonesia," cetus Lukito.

    Sebaliknya, perusahaan baru atau start up company, lebih mengincar ruang perkantoran berkonsep small office home office (SOHO). Konsep yang memungkinkan aktivitas bekerja dan tinggal berada dalam satu unit properti.

    Itulah mengapa produk SOHO besutan PT Ciputra Surabaya Tbk di Ciputra World Surabaya yang dibanderol Rp 3 miliar laku keras. 

    "Itu merupakan opsi buat start up company. Dengan harga lebih rendah, mereka bisa memiliki aset dengan dua fungsi sekaligus. Dibandingkan ruko deengan harga Rp 5 miliar, SOHO lebih menguntungkan buat mereka," tuntas Lukito.

     

     

     

    properti.kompas.com

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci